Berikut persepsi-persepsi yang dianggap benar oleh sebagian masyarakat kita namun sebenarnya tidaklah Qur’ani:

1. Allah hanya memberikan hidayah kepada orang tertentu yang dikehendakiNya saja

Pendapat ini keliru . Hal ini karena salah dalam menginterpretasikan ayat berikut:

Demikianlah Allah menyesatkan siapa saja menurut kehendak-nya dan memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu melainkan Dia.Al-Mudatsir (73):31

Seharusnya pertimbangkan ayat-ayat berikut dibawah ini:

Dan Allah tidak memberi hidayah (petunjuk) kepada orang pendusta yang sangat ingkar. Az-Zumar (39):3

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan akan diberi hidayah oleh Tuhan mereka atas keimanan mereka Yunus (10):9

Dan barang siapa beriman kepada Allah, hatinya diberi hidayah oleh-Nya. At-Taghaabun (64):11

Allah memberi hidayah kepada orang-orang yang kembali (bertobat) kepada-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan selalu ingat kepada Allah. Ar-Ra’d (13):27-28

Dari hal diatas mestilah disimpulkan bahwa Allah memberikan hidayah kepada seseorang karena sebelumya orang tersebut sudah melakukan kegiatan-kegiatan yang disenangi-Nya. Juga harus direnungkan seandainya Allah memang benar memberi hidayah secara cuma-cuma ( tanpa memandang orang itu taat atau tidak pada-Nya), bukankah ini berarti tidak sesuai dengan ke Maha Adilan-Nya ?.

Adanya pemahaman yang keliru mengenai masalah pemberian hidayah Allah ini mengakibatkan orang malas berjuang untuk memahami kebenaran dan melawan hawa nafsunya. Ia akan selalu berdalih bahwa kesesatannya ini karena Allah belum memberinya hidayah. Begitu juga ia tidak mau menunaikan ibadah haji dengan berdalih bahwa ia belum mendapat “panggilan”.

Renungkanlah ayat-ayat berikut ini:

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Al-Israa’ (17):19

Dan taatilah perintah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi Rahmat. Ali-Imran (3):132

2. Sabar itu ada batasnya

Ini pemahaman keliru yang sangat fatal. Dengan pemahaman seperti ini akan menyebabksan hati menjadi rapuh , tidak tegar menerima ujian atau musibah dari Allah, yang akhirnya mengakibatkan batin menjadi merana. Banyak orang yang lepas kontrol dengan dalih “sabar itu ada batasnya”.

Sesungguhnya sabar itu perintah Allah, dengan demikian tidak akan ada batasnya. Ini sama saja halnya dengan shalat. Hanya bedanya, bila shalat dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu ( ada azannya) maka sabar itu harus dilakukan pada saat awal tertimpa musibah. Sedangkan musibah itu selama kita hidup tidak akan pernah berhenti.

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan bagi manusia, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. Al-Kahfi (18):7

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan:”kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi ?. Al-Ankabuut (29):2

Bahkan dalam hadits ditegaskan bahwa musibah itu merupakan indikator kecintaan Allah pada manusia (“ Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia tenggelamkan hamba tersebut kedalam cobaan. Barangsiapa yang tidak pernah mengalami musibah, maka ia jauh dari kasih sayang Allah”). Bukankah dengan musibah itu berarti Allah memberikan peluang kepada manusia untuk memperoleh pahala yang sangat dibutuhkan dalam “kehidupan abadi” nanti ?.

Sabar itu tidak hanya dilakukan pada waktu tertimpa kesusahan saja, tetapi harus juga dilakukan pada waktu diberikan kesenangan. Karena ujian Allah itu tidak hanya terdapat dalam kesusahan saja, tetapi terdapat juga dalam kesenangan ( Al-Anbiya:35, Al-A’raaf:168). Kebanyakan orang justru lalai menjalankan sabar bila diberi kesenangan.

Renungkanlah firman Allah berikut:

… dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah. Luqman(31):17

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya. Ar-Ra’d(13):22

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Al-Baqarah(2):153.

3. Anak adalah karunia Allah

Persepsi seperti ini kurang tepat, karena Al-Qur’an mengatakan bahwa anak itu adalah cobaan Allah.

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anak kamu itu hanyalah sebagai cobaan….. Al-Anfaal (8):28

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. At-Taghabun (64):14

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. At-Taubah(9):55

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya disisi Rabbmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan. Al-Kahfi(18):46

 Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa anak itu adalah titipan atau amanah Allah adalah sesuai dengan maksud Al-Qur’an yang mengatakan bahwa salah satu tanggung jawab orang tua adalah mengusahakan agar keturunannya menjadi lebih baik dari dirinya. Tanggung jawab orang tualah untuk mendidik anak hingga menjadi orang yang berilmu dan bertaqwa. Kalau kewajiban ini dilaksanakan dengan baik, maka ‘efek samping’ nya akan dinikmatinya, yaitu sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw berikut:

“Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, putuslah semua amal perbuatan ( yang dapat menyampaikan pahala kepadanya kecuali tiga perkara: anak yang saleh yang mendoakannya, sedekah jariah (wakaf), dan ilmu yang dapat diambil manfaat daripadanya . HR muslim dari Abu Hurairah.

Seseorang yang mempunyai persepsi bahwa anak itu adalah karunia Allah yang diberikan kepadanya, maka tanpa disadari akan tertanam dalam hatinya bahwa anak itu adalah miliknya. Sehingga bila anak itu melakukan pembangkangan padanya, maka ia akan dilanda kekecewaan ataupun kemarahan. Banyak orang yang mengalami Stress karena perilaku anaknya. Apalagi bila anaknya itu meninggal, ia akan sulit untuk ikhlas. Ia tidak mustahil akan terjerumus kedalam kesedihan yang dalam. Namun bila anak itu dianggap sebagai titipan Allah, yang hendak menguji ketaatannya mematuhi “aturan” yang dibuat-Nya, Insya Allah kejadian yang diilustrasikan diatas tidak akan terjadi. Ingatlah bahwa di akhirat nanti, kita akan dihisab sendiri-sendiri. Seorang ayah atau ibu akan dipisahkan dari anaknya.

Renungkanlah ayat-ayat berikut:

Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. Maryam (19):95

Dan tidaklah seseorang akan menanggung beban dosa orang lain. Al-An’aam(6):64

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tidaklah akan dipikulkan kepadanya sedikit pun meskipun ( yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Fathir (35):18

…seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. An-Najm(53):38-39

4. Berdoalah dahulu sebelum bepergian, supaya Allah menyelamatkan kita sampai di tujuan

Pendapat ini kurang tepat. Harus disadari bahwa permohonan kepada Allah itu sebaiknya mengenai hal-hal yang kita tahu persis bahwa pada hakikatnya yang kita minta itu baik. Dalam hal bepergian, doa yang diajarkan Rasulullah saw adalah bukan minta keselamatan, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah. Soal Dia mau memberi selamat atau tidak, kita pasrahkan saja pada kehendak-Nya dengan penuh keyakinan bahwa Dia tidak pernah menganiaya manusia (Al-Anfaal(8):51.

Bila persepsi yang kurang tepat ini tidak kita tinggalkan, maka dapat mematikan potensi berserah diri. Disamping itu, bisa seseorang akan jera berdoa bila ternyata Allah memberikan hasil yang tidak sesuai dengan permohonannya, apalagi ia merasa telah melaksanakan perintah-perintah-Nya (seperti shalat atau puasa). Hal ini jelas berbahaya.

Sebagai bahan renungan:

 Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Al-Anbiya’(21):35

…..Dan Kami coba mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk. Al-A’raaf (7):168

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu: Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Al-Baqarah(2):216

Kalau kita yakin penuh bahwa doa itu akan diterima,,hal itu juga salah.

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas……. Berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Al-A’raaf (7):55-56

Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Maryam(190:3

…. Sedang mereka berdoa kepada Tuhannya denganrasa takut dan harap…As-Sajdah(32):16

Bukankah ayat-ayat diatas mengisyaratkan bahwa kita harus memasrahkan diri pada kehendak-Nya.

 Sumber: BAHAN RENUNGAN KALBU. Ir. Permadi Alibasyah

Makhluk ghaib telah terlalu lama dan terlalu sering disikapi secara berlebihan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Ada leluhur-leluhur yang minta disajeni, ada barang sakti yang harus dirawat bak anak sendiri, ada kyai-kyai yang mampu mengunci para hantu di dalam botol, hingga isu kolor ijo yang mampu menebar teror penduduk berkampung-kampung.

Apa itu makhluk ghaib?

Secara bahasa, makhluk ghaib adalah segala makhluk yang tidak bisa kita lihat dengan panca indera kita, dengan mata kita. Secara syariat, yang dimaksud ghaib itu adalah sesuatu yang ada di dalam Al Quran, maupun Hadits, tetapi kita sebagai manusia tidak dapat melihatnya. Di antara yang ghaib adalah surga, neraka, azab kubur, hari kiamat termasuk pula jin ataupun setan. Dan untuk soal ini, kita harus percaya, kita harus mengimani, walaupun kita tidak pernah melihat keberadaan makhluk itu.

Adapun kuntilanak, genderuwo, atau pocong, itu semua adalah penampakan-penampakan dari setan, kalau memang benar itu ada. Dan itu pun bukan berarti Allah menciptakan kuntilanak, tuyul, dan sebagainya. Semua itu hanyalah jelmaan, penampakan yang dilakukan setan kepada manusia.

Apakah perbedaan antara Iblis, jin dan setan?

Dalam surat Al Kahfi ayat 50 Allah berfirman:

Al Quran Surat Al Kahfi Ayat 50Lalu siapakah setan itu?.  Dalam surat An An’am Ayat 112 Allah berfirman:  Al Quran Surat Al An'am Ayat 112

Dalam Surat Al A’raaf Ayat 179 Allah berfirman:

Al Quran Surat Al A'raaf ayat 179

Dari beberapa ayat Al Quran diatas maka dapat disimpulkan bahwa setan itu berasal dari manusia dan jin karena sifatnya menipu manusia untuk melakukan pembangkangan terhadap perintah Allah Swt. Iblis sendiri adalah termasuk dari golongan jin sesuai surat Al Kahfi ayat 50 diatas.

Apakah kehadiran makhluk ghaib bisa dideteksi?

Jin, setan, tidak bisa kita rasakan kehadirannya, karena memang tidak dijelaskan oleh Allah, apakah mereka mempunyai bau yang khas ataupun tanda-tanda seperti adanya hawa dingin atau hawa panas, misalnyakehadiran mereka hanya bisa dilihat melalui perubahan dalam sikap atau perilaku seseorang yang diganggu, yang tidak sewajarnya sebagai manusia atau punya sifat-sifat buruk yang identik dengan sifat-sifat setan, seperti suka marah, atau terlihat melakukan gerakan-gerakan diluar batas manusia.

Bagaimana membedakan antara nafsu yang jahat dengan godaan setan?

Perlu diketahui bahwa nafsu itu bisa bergeser membawa kita kearah yang baik maupun kearah yang jahat. Kalaulah nafsu itu bisa bergeser kearah yang jahat sementara godaan setan juga mendorong manusia untuk berbuat jahat, lantas bagaimana kita bisa membedakan antara nafsu yang jahat dengan godaan setan?.

Untuk membedakannya marilah kita ilustrasikan perumpamaannya dengan cerita ibu-ibu kita dahulu waktu memasak nasi pakai kayu bakar dikampung. Untuk menyalakan api yang redup biasanya dipakai bambo. Ujung bambu inilah yang dihembus dan anginnya diarahkan kearah api yang mulai redup sehingga api tersebut kembali marak. Kira-kira demikianlah perumpamaannya, dimana api yang masih redup itu ibarat nafsu yang jahat sedangkan api bisa marak karena ada yang menghembuskannya. Oleh karena itu misalnya kita sedang marah dan tanpa terasa marahnya itu tidak bisa reda-reda malah makin bertambah-tambah, cepatlah sadar dan mintalah perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan Audzubillahi Minassyaithanirrajim  (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk), mudah-mudahan marah kita akan cepat reda.

Bagaimana dengan orang yang mengaku melihat penampakan- penampakan?

Sebagai seorang mukmin, ketika berbicara soal keghaiban,terutama yang berkaitan dengan kehidupan jin ini, kita tidak bisa memberi pernyataan kecuali kalau memang hal itu dijelaskan dalam Al Quran dan Hadist. Dalam surat Al-A’Raf ayat 27 dijelaskan bahwa kita tidak bisa melihat jin, sementara mereka bisa melihat kita. Itulah kondisi normalnya.

Al Quran Surat Al A'raaf Atay 27

Namun, jin diberi keistimewaan oleh Allah untuk bisa menampakkan diri menyerupai apapun, kecuali menyerupai diri Rasulullah. Sekali lagi, ini bukan berarti seseorang itu mampu melihat eksistensi jin, tetapi jin itulah yang akan menampakkan diri. Dan itu beberapa kali terjadi pada jaman Rasulullah. Tetapi kalau mereka tengah berada dalam wujud aslinya, kita sebagai manusia tidak bisa melihat mereka.

Dalam hadist Riwayat Imam Muslim dijelaskan, sewaktu Rasulullah shalat, ifrit—dari golongan jin juga—menampakkan diri, menganggu shalat Rasulullah, kemudian ditangkap oleh Rasulullah. Begitu juga, Abu Hurairah ketika sedang menjaga harta zakat fitrah melihat sosok jin yang tengah menampakkan diri dan mencuri harta zakat itu. Jin ini pun bisa ditangkap oleh Abu Hurairah. Persoalannya, yang kita lihat di TV atau media elektronik, penggambaran soal penampakan jin ini tidak sesuai dengan syariat Islam. Misalnya ada adegan, ketika ada jin yang menampakkan diri kepada manusia, walaupun mungkin itu rekayasa saja, atau mungkin juga beneran, lalu akan dilawan, seakan-akan jin itu tidak tersentuh. Ketika jin itu dilempar sesuatu, seperti melempar pada ruang hampa udara. Padahal sebagaimana diriwayatkan dalam salah satu hadist ada seorang pemuda yang bertemu ular,yang sesungguhnya adalah penampakkan sesosok jin, kemudian ular itu dibunuh maka jin itu pun mati.

Dari sini kita mengambil kesimpulan, ketika jin menampakkan diri, misalnya sebagai manusia, maka berlakulah hukum manusia. Kalau kita tembak ia akan bisa mati, kita lempar akan kena, bukan tembus, seperti yang digambarkan di media selama ini.

Menurut Imam Mutawali Sya’rowi, jin yang tengah menampakkan diri, berada dalam kondisi lemah, ibarat ikan yang keluar dari air. Saat jin menampakkan diri, ia tengah keluar dari komunitas aslinya yang tidak bisa dilihat, maka posisinya lemah sekali. Karena itu mereka juga tidak akan menampakkan dirinya terus menerus atau dalam waktu yang lama, dan bila saat itu ada yang membunuh, dia akan mati.

Alasan jin menampakkan diri?

Dari kasus-kasus yang kita hadapi di lapangan, terhadap pasien yang berkonsultasi sebelum kita terapi ruqyah di majalah Ghoib, kita bisa menyimpulkan bahwa jin ketika menampakkan diri memang mempunyai misi utama yaitu untuk menyesatkan kita. Misal sering kita dengar, ketika ada orang yang meninggal secara tidak wajar, hampir selalu diidentikkan akan ada penampakan, entah dikatakan rohnya pulang, dan sebagainya.

Padahal itu adalah penampakan yang dilakukan oleh setan. Bila kasus semacam itu terjadi, pihak keluarga si mayit mungkin melakukan ritual yang menyimpang, datang ke kuburan, ngasih sesajen, memintanya supaya tidak mengganggu keluarganya. Inilah misi jin atau setan yaitu berusaha agar manusia mengambil sikap yang salah dalam menghadapi fenomena penampakan.

Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang mengaku punya kemampuan bisa melihat jin?

Ada beberapa kemungkinan.

Pertama, orang yang mengaku itu, berbohong, sekedar mencari sensasi saja, padahal sesungguhnya dia tidak melihat.

Kedua, orang tersebut tengah berada dalam kondisi lemah, dalam artian ketaatan dan imannya sedang berkurang. Jin ingin mempermainkan dia dengan penampakan itu, agar orang yang tengah lemah iman ini salah dalam bersikap.

Ketiga, yang dilihat itu sesungguhnya sekedar halusinasi saja. Orang yang jiwanya tidak stabil, misalnya, mudah melihat sesuatu tidak seperti hakekatnya. Melihat daun bergoyang saja, dikira orang melambai-lambai.

Keempat, orang tersebut memang mempunyai ilmu sihir, yang berarti dia memang berkolaborasi dengan setan, dengan ritual-ritual yang menyimpang dari syariat Islam,hingga bisa berkomunikasi atau melihat keberadaan setan. Banyak dari orang yang mengaku mampu melihat jin membawa simbol-simbol Islam,seperti mengenakan sorban, membaca ayat-ayat, dan lain-lain.

Di situlah kita sangat menyesalkan,masyarakat masih sering tertipu dengan penampilan  seseorang, ataupun atribut yang dipakai oleh seseorang, sehingga tidak melihat substansi apa yang dilakukan, sesuai syariah atau tidak. Untuk bisa menilai apakah yang mereka lakukan itu sesuai syariah atau tidak, lihat saja apakah ada tuntunan dari Al Quran dan hadits.

Rasulullah dalam hadits riwayat Imam Bukhari, dengan sederhana sekali memberitahukan kepada kita tips untuk mengusir setan dari rumah, yaitu dengan membaca surat Al Baqarah dari awal sampai akhir. Jadi, tidak ada istilah dikejar, kemudian ditangkap, dan dimasukkan ke botol. Jadi,itu semua adalah cara-cara perdukunan, meskipun yang melakukan itu berpenampilan ustadz.

Lanjut ke Bag-2

Apa sebenarnya ilmu sihir itu?

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, mendefinisikan ilmu sihir sebagai ilmu yang melibatkan kekuatan-kekuatan alam dan kekuatan makhluk halus, yaitu setan, untuk mengelabui atau menipu seseorang.

Jadi kalau seseorang itu tersihir, dia melihat sesuatu tidak seperti hakekatnya, atau merasakan sesuatu tidak seperti aslinya. Ketika Nabi Musa berhadapan dengan tukang-tukang sihir Firaun, kemudian tukang sihir itu melemparkan tali dan tongkat mereka, massa yang hadir melihat tali-tali dan tongkat itu berubah menjadi ular, tapi bagi tukang-tukang sihir itu tetap terlihat sebagai tali.

Makanya ketika Nabi Musa melemparkan tongkatnya dan berubah jadi ular benaran, tukang-tukang sihir itu kaget, terperangah, dan langsung mengimani apa yang dibawa oleh Nabi Musa, yaitu beriman kepada Allah.

Bagaimana hubungan yang terjadi antara manusia dan makhluk ghaib?

Sebetulnya kita diciptakan Allah di alam masing-masing. Kita mempunyai alam sendiri, mereka mempunyai alam sendiri. Kita tidak ada urusan dengan kehidupan mereka, karena memang kita tidak diperintahkan oleh Allah untuk berinteraksi dengan mereka.

Sayang, banyak orang tertipu. Ketika berusaha interaksi dengan jin atau setan, setan itu akan tampil sebagai sosok jin muslim, atau mengaku sebagai kyai atau ustadz, padahal mereka itu setan, musuh kita. Mereka bisa saja tampil sebagai sosok Syekh Abdul Qodir Djailani, atau bahkan sosok Jibril, padahal bukan. Meski demikian, toh ada saja orang yang mau terpedaya dan ingin menggunakan kekuatan jin dengan ilmu sihir.

Tapi perlu dicatat baik-baik, jin tidak pernah membantu manusia tanpa kompensasi. Dan kompensasi yang paling diincar adalah aqidah atau sejauhmana orang itu bisa dibawa supaya  syirik kepada Allah, kafir pada Allah. Dalam dunia perdukunan berlaku hukum, semakin kufur seorang dukun kepada Allah, maka semakin kuatlah daya kekuatan perdukunannya itu. Kenapa? karena akan semakin banyak setan yang membantunya.

Bagi manusia yang menjalin hubungan dengan makhluk ghaib ini, bagaimana prosesnya?

Ada ritualnya. Tentu saja ritual yang menyimpang, entah itu memberikan sesajen, menyembelih binatang tertentu sebagai tumbal, atau cara-cara lain seperti melecehkan Al Quran. Misalnya saja, ada seorang dukun yang butuh bantuan, dia diminta mengambil mushaf lalu dikencingi, atau membuang kotoran di atas mushaf itu. Itu adalah kompensasi yang diminta oleh jin.

Ketika orang itu kufur kepada Allah, maka setanlah yang menjadi temannya. Itu sudah dijelaskan oleh Allah dalam surat Az-Zukhruf ayat 36.

Al Quran Surat Az Zukhruf ayat 36Akibatnya ketergantungannya kini tidak lagi kepada Allah, tetapi kepada jin atau setan. Dan inilah misi yang diemban oleh jin, berusaha menggelincirkan manusia kepada kesyirikan, memalingkan manusia dari Allah SWT. Kini kita lihat, banyak sekali cara-cara mendatangkan setan. Yang populer di kalangan anak muda misalnya main jailangkung. Padahal, setan itu, tanpa diundang, memang akan selalu hadir untuk menggoda kita. Apalagi kalau diundang.

Apakah jin memang bisa dipelihara?

Bisa, dan jin itu senang karena apa yang dia lakukan berarti membantu manusia lupa dari Allah, serta menggelincirkan manusia dari tauhid, sesuailah dengan misinya. Sementara bagi manusia yang berkolaborasi dengan jin, ia merasa mendapat keuntungan, karena jin memang mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki manusia, misalnya bisa bergerak cepat.

Bagaimana seharusnya kita menyikapi persoalan makhluk ghaib ini?

Sebagai mukmin kita harus mengikuti rambu-rambu yang diperintahkan oleh Allah dalam AlQuran. Dalam surat Al-Baqarah ayat 1-5, Allah SWT menjelaskan, termasuk ciri orang muttaqin adalah beriman pada alam ghaib. Tapi kita tidak boleh berbicara atau mengulas apapun yang berkaitan dengan alam ghaib ini,kecuali yang sesuai dengan Al Quran dan hadits.

Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 1Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 2Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 3Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 4Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 5

Dalam surat Al-Jinn ayat 26-27, Allah menyatakan, yang mengetahui hal yang ghaib hanyalah Allah dan Allah tidak menampakkan yang ghaib kepada seorangpun, kecuali kepada RasulNya. Berarti, ada keghaiban yang memang diberitahukan kepada RasulNya. Karena itu sejauh yang diberikan kepada RasulNya, hanya itulah yang harus kita ambil. Kalau tidak ada dalam Al Qur’an dan hadits, kita ucapkan ‘wallahu a’lam’.

Al QuranSurat Al Jin Ayat 26-27Kalau ada orang yang terkena gangguan setan, bagaimana mengatasinya?

Ruqyah adalah cara yang telah dicontohkan Rasulullah untuk mengusir gangguan setan pada diri seseorang. Perlu diketahui, gangguan setan tidak hanya berwujud fisik, yang membuat orang menjadi seperti orang gila atau stres. Tapi banyak juga dijumpai gangguan nonfisik dalam diri kita, seperti muncul kesombongan, iri dan dengki. Itu semua adalah penyakit-penyakit yang dihembuskan setan kepada kita.Di sini harus kita pahami bahwa gangguan itu tidak hanya soal fisik seperti kesurupan.Termasuk gangguan setan juga adalah menghalangi seseorang dari kemauan menutup aurat, atau tidak rajin shalat. Hanya saja kebanyakan orang tidak merasa kalau diganggu.

Wallahu A’lam. Disadur dari berbagai sumber

Mari bertobat dari melakukan perbuatan Syirik 

“ Sesungguhnya Allah Tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakinya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang besar”. An-Nisa(4):48

Syirik adalah Dosa Besar, Janganlah sampai mati masih dalam keadaan melakukan perbuatan syirik, Yang termasuk kategori syirik: Jimat, keris pusaka, susuk, makam keramat dan sejenisnya, kemudian benda2 itu dijadikan andalan sebagai pelindung keselamatan, pemberi rezeki dll. Meskipun harus diakui bahwa benda2 itu mempunyai kekuatan gaib namun janganlah sampai -tergoda untuk menggunakannya sebagai pelindung keselamatan. Allah Murka.

Sesesat-sesatnya perbuatan manusia adalah Syirik. Dosa akibat perbuatan syirik tidak akan pernah diampuni Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Oleh karena itu, satu-satunya jalan bagi orang yang pernah melakukan perbuatan syirik untuk menuju syurga, adalah disamping bertaubat nasuha harus dibarengi dengan memperbanyak perbuatan amal sholeh. Karena dengan begitu, insya Allah, dosa besar akibat syirik yang pernah dilakukannya dapat balance dengan pahala yang dianugerahkan-Nya. Renungkan firman Allah pada surat, Al-An’am(6), 14 & 160; Al-Anfal(8):29; Al-Jin(72):6.

Sumber: Bahan Renungan Kalbu, Ir. Permadi Alibasyah

 Kembali ke Bag-1 

Kaligrafi Ar Rahmanir RahiimIbnu Qudamah dalam salah satu bukunya yang berjudul At Tawwabin, menuturkan sebuah kisah menarik tentang kasih sayang dan pertolongan Tuhan. Ibnu Qudamah menyitir kesaksian orang yang mengalami kejadian nyata yang menakjubkan. Orang itu bernama Yusuf bin Husain. Dia menuturkan kisahnya sebagai berikut:

Pernah suatu ketika aku bersama Dzun Nun Al Mishri ditepi sebuah anak sungai. Aku melihat seekor kalajengking besar ditempat itu. Tiba-tiba ada seekor katak muncul kepermukaan, dan kalajengking itu kemudian naik diatas punggungnya. Kemudian katak itu berenang menyeberangi sungai.

“Dzun Nun al Mishri lalu berkata, ‘Ada yang aneh dengan kalajengking itu, mari kita ikuti dia!”. Maka kami lantas menyeberang mengikuti kalajengking yang digendong katak itu. Kami terperanjat ketika menjumpai seseorang tertidur ditepian sungai yang nampaknya habis mabuk. Dan disampingnya ada seekor ular yang mulai menjalar dari pusar kemudian kedadanya, kiranya ular tersebut hendak menggigit telinganya.

Kami lalu menyaksikan kejadian yang luar biasa. Kalajengking itu tiba-tiba melompat secepat kilat ketubuh ular itu dan menyengatnya sejadi-jadinya, sehingga ular itu menggeliat-geliat dan terkoyak-koyak tubuhnya.

Dzun Nun lalu membangunkan anak muda yang habis mabuk itu. Sesaat kemudian ia terjaga. Dzun Nun berkata, ‘Hai anak muda, lihatlah betapa besar kasih sayang Allah yang telah menyelamatkanmu. Lihatlah kalajengking yang diutus-Nya untuk membinasakan ular yang hendak membunuhmu!’.

Kemudian pemabuk itu berkata, ‘Duhai Tuhanku, betapa agung kasih sayang-Mu sekalipun terhadap diriku yang durhaka kepada-Mu. Jika demikian bagaimana kasih sayang-Mu kepada orang yang selalu taat kepada-Mu?.

“Pemuda pemabuk itu lalu bertaubat. Ia seringkali menangis setiap kali teringat masa lalunya yang sia-sia. Ia terus meniti jalan Allah yang lurus, jalan untuk orang-orang yang diberi nikmat sejati oleh Allah.

Pelajaran hidup:

Cobalah sejenak ingat-ingat sejarah perjalanan hidup kita. Berapa kali sudah Allah menyelamatkan hidup kita tanpa kita sadari. Kita ambil contoh lagi.

Didalam tubuh kita, menurut keterangan ahli medis Allah membuat suatu pabrik ajaib yang namanya Hati. Hati bisa dikatakan organ terbesar manusia dengan berat sekitar 1.5 kg. Fungsinya sangat banyak, bahkan mungkin lebih dari 500 fungsi. Dengan fungsi yang begitu banyak dan rumit, hati ibarat pabrik kimia serba guna dengan jumlah sel kira-kira 3000 miliar.

Salah satu fungsi hati adalah menyaring dan mengolah darah. Dalam keadaan normal, organ hati dilintasi darah sedikitnya sekitar 1400 cc setiap menitnya atau hampir seperempat jumlah darah dalam tubuh manusia. Ini adalah cara tubuh untuk membersihkan darah. Hati menyaring darah yang melewatinya, lalu membersihkan dari unsur-unsur yang mengotori darah tersebut. Jika hati menyaring 1,4 liter darah setiap menitnya berarti dalam setahun hati telah menyaring darah lebih dari 525.000 liter tanpa henti.

Tanpa organ hati manusia tidak akan bisa bertahan hidup, karena akan mati terbunuh oleh pelbagai racun yang masuk kedalam tubuh, termasuk obat-oabatan kimia sintetis, seperti antibiotik yang diresepkan dokter dimana-mana.

Dan Allah lah yang menjaga kehidupan seseorang dengan menciptakan hati . Menjaga hati terus-menerus bekerja tanpa kita sadari.

Pertolongan dan kasih sayang Allah didunia ini tidak hanya untuk orang-orang yang taat saja. Orang yang bermaksiat sekalipun masih mendapat kasih sayang sesuai kehendak Allah. Contohnya: Pemuda pemabuk tadi.

Semestinya kasih sayang Allah yang sedemikian agungnya membuat siapapun akan menjadi insyaf dan taat kepada-Nya bahwa kita masih diberi kesempatan untuk hidup dan bisa bernafas didunia ini. Semoga.

Wujud : Artinya ALLAH Itu Ada

Yaitu tetap dan benar yang wajib bagi zat Allah Ta’ala yang tiada disebabkan dengan sesuatu sebab. Firman Allah SWT.:

Al Qur'an surat Al Ikhlash (Memurnikan Keesaan Allah) ayat (1-4)

Kisah-1: Percakapan seorang pelajar baru dengan seorang professor yang ateis

An atheist professor of philosophy speaks to his class on the problem science has with God, The Almighty.  He asks one of his new students to stand and…..

Seorang professor filsafat yang ateis menerangkan kepada pelajar2 dikelasnya tentang permasalahan Kekuasaan Tuhan dalam kaitannya dengan Ilmu Pengetahuan.  Dia menyuruh salah seorang pelajar baru untuk berdiri dan…..

Prof: So you believe in God?

Prof: Jadi anda percaya bahwa Tuhan itu Ada?

Student: Absolutely, sir.

Pelajar:  Benar, Pak.

Prof : Is God good?

Prof; Apakah Tuhan itu baik?

Student: Sure.

Pelajar: Sudah tentu

Prof: Is God all-powerful?

Prof: Apakah Tuhan itu Maha Kuasa atas segalanya?

Student : Yes.

Pelajar: Iya

Prof: My brother died of cancer even though he prayed to God to heal him.  Most of us would attempt to help others who are ill. But God didn’t. How is this God good then? Hmm?

Prof: Saudara saya meninggal karena penyakit kanker padahal dia sudah berdoa kepada Tuhan untuk membantu menyembuhkan penyakitnya. Kebanyakan dari Kita akan berusaha untuk menolong  orang yang sedang sakit. Tetapi Tuhan tidak menolong. Bagaimana bisa dikatakan Tuhan itu baik?  Hmmm?

(Student is silent.)

(Pelajar itu terdiam)

Prof: You can’t answer, can you? Let’s start again, young fella. Is God good?

Prof: Engkau tidak bisa menjawabnya, bukan?. Mari Kita  ulangi lagi, orang muda. Apakah Tuhan itu Baik?

Student: Yes.

Pelajar: Iya

Prof: Is Satan good?

Prof: Apakah setan itu baik?

Student : No.

Pelajar: Tidak

Prof: Where does Satan come from?

Prof: Dari manakah asal setan itu?

Student: From…God…

Pelajar: Dari Tuhan

Prof: That’s right. Tell me son, is there evil in this world?

Prof: Betul. Coba katakan nak, apakah Ada kejahatan di dunia ini?

Student: Yes.

Pelajar: Iya, Ada

Prof: Evil is everywhere, isn’t it? And God did make everything. Correct?

Prof: Kejahatan Ada dimana-mana, bukan?. Dan Tuhan menciptakan segalanya. Benarkah?

Student: Yes.

Pelajar: Iya

Prof: So who created evil?

Prof: Jadi siapakah yang menciptakan kejahatan itu?

(Student does not answer.)

(Pelajar itu tidak memberikan jawaban)

 

Prof: Is there sickness? Immorality? Hatred? Ugliness? All these terrible things exist in the world, don’t they?

Prof: Apakah Ada yang dinamakan dengan penyakit? Tidak bermoral? Rasa benci? Keburukan?. Semua  hal-hal yang tidak baik  yang saya sebutkan tadi Ada didunia ini, bukan?

Student: Yes, sir.

Pelajar: Iya

Prof: So, who created them?

Prof: Siapa yang menciptakan semua itu:

(Student has no answer.)

(Pelajar tidak memberikan jawaban)

Prof: Science says you have 5 senses you use to identify and observe the world around you. Tell me, son…Have you ever seen God?

Prof: Ilmu penegetahuan mengatakan bahwa engkau memiliki 5 panca indera untuk dapat mengenali Dan mengamati dunia disekelilingmu. Coba ceritakan kepada saya, nak. Apakah engkau pernah melihat Tuhan?

 Student: No, sir.

Pelajar: Tidak, Pak.

Prof: Tell us if you have ever heard your God?

Prof: Coba ceritakan, apakah engkau pernah mendengar suara Tuhan?

Student: No, sir.

Pelajar: Tidak, Pak

Prof: Have you ever felt your God, tasted your God, smelt your God? Have you ever had any sensory perception of God for that matter?

Prof: Apakah engkau pernah menyentuh Tuhan, merasakan, mencium bau Tuhanmu?. Apakah engkau pernah mendeteksi keberadaan Tuhan melalui panca inderamu?

Student: No, sir. I’m afraid I haven’t.

Pelajar: Tidak, Pak. Saya takut tidak akan pernah merasakannya.

Prof: Yet you still believe in Him?

Prof:  Saya tidak mengerti, mengapa engkau masih mempercayai keberadaan-Nya

Student: Yes.

Pelajar: Iya

Prof: According to empirical, testable, demonstrable protocol, science says your GOD doesn’t exist. What do you say to that, son?

Prof: Sesuai dengan kenyataan  empiris, data percobaan, Dan demonstrasi pembuktian, Ilmu Pengetahuan mengatakan bahwa  Tuhanmu sebenarnya tidak Ada. Apa pendapatmu tentang hal itu, nak?.

Student: Nothing. I only have my faith.

Pelajar: Tidak Ada. Saya hanya memiliki keyakinan

Prof: Yes. Faith. And that is the problem science has.

Prof: Iya, keyakinan. Itulah yang menjadi persoalan dari sisi Ilmu Pengetahuan.

Student: Professor, is there such a thing as heat?

Pelajar: Professor,  Apakah engkau mengetahui adanya sesuatu yang dikatakan dengan panas.

Student: And is there such a thing as cold?

Pelajar: Dan sesuatu yang dikatakan dengan dingin?

Prof: Yes.

Prof: Iya

Student: No sir. There isn’t. (The lecture theatre becomes very quiet with this turn of events.)

Pelajar: Tidak, Pak.  Yang dikatakan dingin itu sebenarnya tidak ada. ( Semua pelajar yang berada dalam ruangan itu menjadi sunyi senyap dengan adanya pertanyaan balik  ini)

Student : Sir, you can have lots of heat, even more heat, superheat, mega heat, white heat, a little heat or no heat. But we don’t have anything called cold. We can hit 458 degrees below zero which is no heat, but we can’t go any further after that. There is no such thing as cold. Cold is only a word we use to describe the absence of heat. We cannot measure cold. Heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it .

(There is pin-drop silence in the lecture theatre.)

Pelajar: Pak, Engkau bisa merasakan bermacam-macam panas itu seperti: lebih panas, sangat panas, dan sangat panas sekali, sedikit panas atau tidak ada panas. Tapi kita tidak bisa mengukur besarnya dingin.  Kita  hanya bisa mendeteksi panas sebesar 458 derajat dibawah titik nol yang artinya tidak ada terasa panas lagi. Kita belum bisa mecapai panas dibawah titik tersebut. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang dikatakan dengan dingin. Dingin hanyalah sebuah nama yang kita gunakan untuk  menjelaskan tentang ketiadaan panas. Kita tidak dapat mengukur besarnya dingin. Panas adalah energy. Dingin bukanlah lawan kata dari panas, pak. Tetapi hanya berupa ketiadaan panas. (Terdengar suara pulpen terjatuh di ruangan yang sunyi senyap)

Student: What about darkness, Professor? Is there such a thing as darkness?

Pelajar: Bagaimana dengan keadaan gelap menurut professor?. Adakah sesuatu yang dikatakan dengan kegelapan?

Prof: Yes. What is night if there isn’t darkness?

Prof: Iya. Bagaimana mungkin ada malam kalau tidak ada kegelapan

Student : You’re wrong again, sir. Darkness is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light…. But if you have no light constantly, you have nothing and it’s called darkness, isn’t it? In reality, darkness isn’t. If it were you would be able to make darkness darker, wouldn’t you?

Pelajar: Bapak salah lagi.  Kegelapan adalah menyatakan ketiadaan sesuatu cahaya. Engkau dapat mengatakan kurang terang, cukup terang, sangat terang, sinar terang…Tetapi  bila engkau tidak  mendapatkan  cahaya sama sekali engkau tidak akan dapat melihat apa-apa dan itulah yang dinamakan kegelapan, bukan?. Secara nyata, sebenarnya kegelapan itu tidak ada. Sebab jikalau kegelapan itu ada maka anda akan  bisa membuat tingkatan kegelapan menjadi lebih gelap lagi, bukan?.

Prof: So what is the point you are making, young man?

Prof: Sebenarnya, apa tujuan pertanyaanmu semua itu. Orang muda?

Student: Sir, my point is your philosophical premise is flawed.

Pelajar; Pak, Maksud saya, cara berfikir bapak ada yang tidak tepat.

Prof: Flawed? Can you explain how?

Prof: Tidak tepat?. Dapatkah engkau menjelaskannya?

Student: Sir, you are working on the premise of duality. You argue there is life and then there is death, a good God and a bad God. You are viewing the concept of God as something finite, something we can measure. Sir, science can’t even explain a thought. It uses electricity and magnetism, but has never seen, much less fully understood either one.To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing. Death is not the opposite of life: just the absence of it. Now tell me, Professor.Do you teach your students that they evolved from a monkey?

Pelajar: Pak, Engkau memahami keberadaan Tuhan berdasarkan prinsip-prinsip dasar yang ganda. Engkau mengatakan bahwa  ada hidup dan kemudian ada mati, Tuhan yang baik dan Tuhan yang Jahat. Engkau menggambarkan konsep ke Tuhanan itu sebagai sesuatu yang terbatas, sesuatu yang dapat kita ukur. Pak, Ilmu Pengetahuan itu tidak akan dapat menjelaskan apa itu  yang namanya gagasan pikiran. Kita  dapat menggunakan listrik, daya magnet, tetapi kita tidak pernah melihat apa sebenarnya didalam listrik itu. Menggambarkan mati sebagai sesuatu yang berlawanan dengan kata hidup adalah sesuatu yang salah. Mati bukanlah lawan kata dari  hidup; tetapi hanyalah menggambarkan ketiadaan kehidupan. Sekarang, cobalah anda pikirkan. Apakah engkau menganggap murid2 yang engkau ajari itu sebenarnya berasal dari keturunan monyet?

Prof: If you are referring to the natural evolutionary process, yes, of course, I do.

Prof: Jika engkau berpatokan pada proses evolusi, Iya, sudah tentu?

Student: Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?

(The Professor shakes his head with a smile, beginning to realize where the argument is going.)

Student: Apakah engkau pernah melihat langsung proses terjadinya evolusi itu, Pak?. (professor menggaruk kepalanya sambil tersenyum, mulai memahami kemana arah pembicaraan)

Student: Since no one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavor. Are you not teaching your opinion, sir? Are you not a scientist but a preacher? (The class is in uproar.)

Pelajar: Karen tidak ada seseorangpun yang pernah melihat proses evolusi itu berlangsung dan sampai sekarang tidak dapat dibuktikan bahwa evolusi itu masih berlangsung . Apakah selama ini sebenarnya engkau bukan mengajarkan buah pikiranmu?. Apakah engkau bukan seorang ilmuwan tetapi hanyalah seorang pembual?. (Kelas menjadi gaduh)

Student: Is there anyone in the class who has ever seen the Professor’s brain?

Pelajar: Apakah ada sesorang didalam kelas ini yang pernah melihat otak professor

(The class breaks out into laughter.)

Student : Is there anyone here who has ever heard the Professor’s brain, felt it, touched or smelt it? No one appears to have done so. So, according to the established rules of empirical, stable, demonstrable protocol, science says that you have no brain,sir. With all due respect, sir, how do we then trust your lectures, sir?

(The room is silent. The professor stares at the student, his face unfathomable.)

 ( Terdengar suara orang yang tertawa)

Pelajar: Apakah   ada yang pernah mendengar suara otak professor, merasakannya, menyentuhnya atau mencium bau otak professor. Tak akan ada orang yang pernah melakukannya. Jadi, sesuai dengan hukum2 empiris, kestabilan dan pembuktian jikalau begitu  Ilmu pengetahuan mengatakan sebenarnya engkau tidak memiliki otak, pak. Dengan segala hormat, pak, bagaimana mungkin kami bisa mempercayai apa yang engkau ajarkan?.

(Ruangan kembali senyap, professor menatap pelajar, wajahnya kelihatan bingung)

Prof: I guess you’ll have to take them on faith, son.

Prof: Saya rasa itu masalah kepercayaan saja, nak.

Student: That is it sir… The link between man & god is FAITH . That is all that keeps things moving & alive.

Pelajar: Itulah yang saya maksud, Pak. Hubungan antara manusia dengan Tuhan adalah soal keyakinan. Dialah yang menyebabkan manusia tetap bisa beraktifitas dan hidup.

NB: I believe you have enjoyed the conversation…and if so…you’ll probably want your friends/colleagues to enjoy the same…won’t you?…. this is a true story, and the student was none other than………..  APJ Abdul Kalam , the former president of India (The 3rd Muslim president of INDIA)

NB: Mudah-mudahan anda menikmati pecakapan tadi. Bila iya…sebarkan lah ini kepada teman/kerabat untuk dapat menikmatinya juga. Ini adalah kisah nyata dan pelajar tersebut adalah Abdul kalam, bekas presiden India ( Presiden ketiga  India yang seorang Muslim).

Kisah-2: Dialog between Imam Abu Hanifa vs Atheist

The story below shows how weak an atheist feel’s after trying to battle Imam Abu Hanifa intellectually….

Imam Abu Hafina was asked by the khalifa to meet with them and an atheist so Imam Abu Hanifa could debate with him. They set a time for them to meet up. So the day and time came and left and they kept waiting for Imam Abu Hanifa until finally he came. Everyone questioned him about his being late and what happened. So he started explaining how there was river that he had to cross…. and he was waiting for a boat to come and bring him on the other side of the river.

While he was waiting, the branches and leaves of the tree fell and slowly formed themselves into a boat. And he jumped in that boat crossed the river.

Obviously ppl laughed at this story and the atheist asked him “Are you mad enough to believe that a boat was made all by itself?”

Imam Abu Hanifa replied “Who is more mad? the one who believed that a boat was created by itself, or you who believes that the entire world is created by itself?”

Terjemahan:

Dialog antara Imam Abu Hanifah vs Ateis

Cerita dibawah ini menggambarkan bagaimana malunya seorang ateis  setelah mencoba menantang  intelekualitas Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah diundang khalifah untuk bertemu dengan mereka dan seorang ateis untuk melakukan debat. Mereka mengatur jadwal untuk melakukan pertemuan. Pada hari  yang telah ditentukan mereka lama menunggu Imam Abu Hanifah karena beliau terlambat datang. Semua orang bertanya-tanya mengapa beliau terlambat dan apa yang telah terjadi.

Maka beliaupun menceritakan bahwa ia harus melewati sungai..dan pada sat itu  tidak ada sampan yang bisa ditumpangi supaya beliau dapat menyeberang.

Sewaktu beliau sedang menunggu sampan , tiba-tiba cabang-cabang pohon dan daun-daunan berjatuhan membentuk sebuah sampan. Kemudian ia melompat kedalamnya sehingga ia dapat menyeberangi sungai tersebut.

Orang-orang tertawa mendengar cerita tersebut dan si ateis itu bertanya kepadanya:”Apakah engkau cukup gila sehingga percaya bahwa  sampan itu bisa terbentuk sendiri”.

Imam Abu Hanifah membalas:”Siapa sebenarnya yang gila? Orang yang mempercayai bahwa sampan terbentuk sendiri atau orang yang percaya bahwa dunia ini terbentuk dengan sendirinya. (Note: seorang ateis itu mempercayai bahwa dunia ini tidak ada yang menciptakan tapi terbentuk dengan sendirinya).

Lanjut ke Bag-2 

Pola Pikir Seorang Ateis:

Stephen Hawking berpendapat bahwa: Alam Semesta Bukan Ciptaan Tuhan?. Sedangkan Allah telah berfirman:

Al Qur'an surat Al Kaafiruun (Orang-Orang Kafir (ayat 1-3)Al Qur'an surat Al Kaafiruun (Orang-Orang Kafir (ayat 4-6)

Fisikawan terkemuka asal Inggris itu, dalam buku terbarunya yang berjudul The Grand Design berpendapat bahwa alam semesta tak diciptakan oleh Tuhan. Menurutnya, peristiwa Big Bang yang menjadi awal pembentukan alam semesta tercipta akibat hukum gravitasi dan bukan karena adanya campur tangan Ilahi.

“Karena adanya hukum gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta dengan sendirinya. Penciptaan yang spontan itu adalah alasan mengapa sesuatu itu ada, mengapa alam semesta itu ada, mengapa kita ada,” tegas Hawking dalam buku terbarunya itu yang ditulis bersama Leonard Mlodinow, fisikawan asal AS.

Ateis

Pendapat Hawking bertentangan dengan Isaac Newton yang mengatakan bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan karena tidak mungkin alam tercipta dari chaos. Pemikiran Hawking yang ditulis dalam buku barunya itu datang dari sebuah observasi pada 1992 yang meneliti sebuah planet serupa Bumi yang mengelilingi sebuah bintang yang mirip Matahari.

“Secara kebetulan kondisinya mirip sistem tata surya kita dengan matahari tunggal, dan kombinasi yang benar-benar sangat mirip antara jarak Bumi-Matahari dan massa matahari sehingga bukan menjadi hal yang luar biasa dan tidak terbukti bahwa Bumi dirancang secara khusus hanya untuk kehidupan manusia,” jelas Hawking kemudian.

Hal tersebut bertolak belakang dengan pendapat sebelumnya. Dalam bukunya yang terbit pada tahun 1988, A Brief History of Time, Hawking menegaskan kepercayaannya akan campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta. “Jika kita menemukan sebuah teori yang lengkap maka itu akan menjadi kemenangan besar dari nalar manusia. Untuk itu, kita harus mengetahui pikiran Tuhan,” tulis Hawking, pada saat itu.

Pandangan ilmuwan terkemuka Stephen Hawking yang mengabaikan peran Tuhan dalam penciptaan alam semesta mulai dikomentari para pemuka agama di Inggris. Dalam buku terbarunya berjudul The Grand Design, Hawking menulis bahwa alam semesta tercipta dengan sendirinya karena adanya hukum gravitasi.

Pendapat tersebut langsung mendapat tanggapan dari Kepala Gereja Inggris, Uskup Agung Canterbury Dr Rowan Williams. Menurutnya, masalah penciptaan tidak bisa hanya dijelaskan dari ilmu fisika semata. Sains dan agama bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.

“Kepercayaan kepada Tuhan bukan semata soal penjelasan bagaimana hubungan satu sama lain di alam semesta. Ini adalah soal keyakinan bahwa ada kekuatan hebat sehingga segala sesuatu tergantung keberadaannya,” ujar Rowan Williams seperti dilansir CNN, Jumat (3/9/2010).

Komentar Williams didukung sejumlah pemuka agama di Inggris lainnya, antara lain dari Kepala Pendeta Jonathan Sacks. Dikatakannya, “Sains adalah penjelasan. Agama adalah interpretasi. Injil tentu tidak tertarik menjelaskan bagaimana alam semesta bisa tercipta.”

Ibrahim Mogra, imam dan kepala komite di Dewan Muslim Inggris, mengatakan, “Saat kita melihat alam semesta dan semua yang diciptakan di dalamnya, pasti ada pikiran ada yang menciptakannya. Itulah Yang Maha Kuasa.”

Dalam buku yang akan segera terbit pada 9 September 2010 mendatang di Inggris itu, Hawking meyakinkan bahwa “M-Theory”, sebuah bentuk dari string theory, bisa menjelaskan penciptaan alam semesta. “Tidak perlu membawa-bawa Tuhan seolah-olah Ia yang memicu terciptanya alam semesta,” tulis Hawking.

Mari kita tutup tulisan ini dengan sebuah ayat inspirasi berikut:

Al Qur'an surat Lukman ayat (25) 

Sumber:

http://islam2u.bumicyber.org/

http://sains.kompas.com/

Kembali ke Bag-1

AYAT TERAKHIR AL QUR’AN YANG TURUN SEHUBUNGAN DENGAN FARDHU DAN KEWAJIBAN.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiimi;

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Al Qur'an surat Al MAaa'idah (Hidangan) ayat (3)Keterangan Al Qur'an surat Al Maa'idah ayat (5)

…Al yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa radhiitu lakumul islaama diinan…

….Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’matku, dan telah ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.  …. [Al Maa’idah (Hidangan)][5]:3.

Rasulullah Saw bersabda:

Malaikat jibril telah berkata kepadaku: “Hai Muhammad sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan sebuah laut dibalik gunung Qaf, dan dilaut itu terdapat ikan yang selalu membaca shalawat untuk kamu; maka barang siapa  yang mengambil seekor ikan dari laut itu  maka lumpuhlah kedua tangannya dan ikannyapun akan menjadi batu.

Ini mengisyaratkan bahwa, jika seseorang membaca shalawat untuk nabi Muhammad Saw, dan dia mengerjakan shalat lima waktu, maka dia akan selamat dari tangan siksa Malaikat Zabaaniyah dan selamat pula dari siksa neraka.

Diriwayatkan: bahwa ketika ayat diatas turun, maka Umar Ra menangis. Nabi bersabda kepadanya: “Apakah yang menjadikan engkau menangis, hai Umar?. Umar menjawab: “Yang menyebabkan saya menangis ialah kita bertambah urusan didalam agama kita; karena bila dia itu menjadi sempurna, maka tidak ada sesuatupun yang sempurna kecuali dia tetap kurang. Sabda nabi Saw: “Telah benar engkau” .(Abu Su’ud)

Kata “Al yauma” maka huruf lam (alif dan lam) itu menunjukkan arti masa/waktu, maksudnya ialah zaman yang akan datang dan sesuatu yang berhubungan dengan masa-masa yang telah lampau.

Diriwayatkan bahwa ayat tersebut diatas diturunkan sesudah waktu ashar pada hari Jum’at di Padang Arafah pada musim haji wada’ ( haji penghabisan), sedang Nabi Saw pada waktu itu berada di  Arafah dan diatas unta. Sesudah itu tidak ada lagi  ayat yang turun sehubungan dengan fardhu atau kewajiban.

Ketika ayat  tersebut turun Nabi Saw tidak kuat menerimanya, mengingat isi dan makna yang dikandung oleh ayat itu, maka beliau bersandar pada untanya dan untanyapun kemudian duduk. Maka turunlah malaikat Jibril dan berkata: “ Hai Muhammad, sungguh pada hari ini telah sempurna urusan agamamu, terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah  dan demikian juga apa yang dilarang  oleh-Nya. Maka kumpulkanlah para sahabatmu dan beritahukan kepada mereka bahwa saya tidak akan turun lagi sesudah hari ini”.

Nabi Saw terus kembali dari kota Makkah dan datang ke kota Madinah, kemudian mengumpulkan para sahabatnya dan membaca ayat tersebut serta memberitahukan kepada mereka apa-apa yang telah dikatakan oleh Malaikat Jibril. Maka para sahabatnya sama gembira sambil mengatakan: “ Agama kita telah sempurna”, kecuali Abu Bakar Ra, yang merasakan susah dan terus pulang menutup pintu serta menangis disiang hari maupun dimalam hari. Hal itu didengar oleh para sahabat yang lain, lalu mereka berkumpul dan datang kerumah Abu Bakar dan bertanya : “ Hai Abu Bakar, mengapa engkau menangis disaat riang dan gembira; karena Allah ta’ala telah menyempurnakan agama kita?. Abu Bakar menjawab: “ Hai para temanku, kamu sekalian tidak tahu musibah yang menimpa kamu; tidakkah kamu sekalian mendengar, suatu perkara itu bila sempurna menjadi tampaklah kekurangannya, dan ayat ini juga menunjukkan perpisahan kita ( dengan nabi Muhammad Saw), keadaan Hasan dan Husain menjadi yatim keduanya, para isteri nabi Saw. menjadi janda semuanya.”

Maka terjadilah jeritan jeritan/teriakan teriakan diantara para sahabat dan semuanya menangis. Selain mereka itu ada pula sahabat yang mendengar tangisan itu terdengar dikamar rumah Abu Bakar dan  mereka semua datag menghadap kepada Nabi Saw. seraya berkata: “ Wahai Rasulullah, kami tidak tahu, mengapa kami mendengar kawan- kawan sahabat sama menangis dan menjerit jerit dikediaman Abu Bakar . Maka berubahlah roman muka Nabi Saw, serta merta berdiri dan cepat-cepat pergi kepada para sahabat dikediaman  Abu Bakar; dan beliau mendapatkan mereka betul-betul semua menangis  dan menjerit-jerit. Kemudian beliau bertanya kepada mereka: “ Apakah yang menyebabkan kamu sekalian menangis ?”. Sahabat Ali Ra menjawab: “ Abu Bakar mengatakan: “ Saya telah membaui dari ayat ini akan bau/tanda tanda kematian Rasulullah”, apakah ayat ini menunjukkan akan wafat engkau”. Nabi Saw bersabda: “ Apa yang dikatakan oleh Abu Bakar itu benar, dan sungguh telah dekat waktuku meninggalkan kamu sekalian dan telah sampai pula waktu perpisahanku dengan kamu sekalian.”

Kejadian ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah diantara sahabat yang lebih tahu. Ketika Abu Bakar mendengar yang demikian itu, dia menjerit dengan jeritan yang keras sekali serta tersungkur karena pingsan, sedang Ali Ra, badannya gemetar dan para sahabatpun sama ribut sibuk merasa ketakutan semuanya dan semuanya menangis keras sekali, sehingga turut pula menangis gunung-gunung, batu-batu dan semua Malaikat yang berada dilangit, cacing-cacing dan semua binatang baik yang didarat maupun dilaut. Kemudian Nabi Saw menjabat tangan para sahabat satu persatu dan meninggalkan mereka sambil menangis dan telah berwasiat pula kepada mereka.

Sesudah turunnya ayat diatas Nabi Saw mengalami hidup selama delapan puluh satu hari.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.  bahwa Nabi Saw ketika sudah dekat ajalnya, beliau menyuruh Bilal agar azan/mengundang orang-orang untuk mengerjakan shalat. Maka berkumpullah para Muhajjirin dan Anshar ke masjid Rasulullah Saw, kemudian beliau mengerjakan shalat dua raka’at dengan ringan, bersama-sama dengan mereka, lalu beliau naik mimbar membaca alhamdulillah, memuji kepada Allah dan berkhutbah/berpidato dengan kalimat-kalimat yang baligh/tepat sehingga hati menjadi gentar, dan matapun menangis dan beliau bersabda:

“Hai kaum muslimin, sesungguhnya saya bagi kamu sekalian itu sebagai nabi dan penasihat serta sebagai orang yang mengajak kepada jalan Allah dengan ijin-Nya, dan adalah saya bagimu itu seperti saudara kandung yang kasih sayang dan seperti ayah yang belas kasih; barangsiapa  yang mempunyai hak yang bisa dituntut, hendaklah berdiri dan membalas kepada saya sebelum saya dituntut balas dihari Kiamat.”

Tidak seorangpun yang berdiri, sehingga beliau bersabda kedua kali dan ketiga kali. Maka berdirilah seorang laki-laki bernama”Ukasyah bin Muhshan, dihadapan nabi Saw. dia berkata: “ Demi ayahku dan ibuku ya Rasulullah, seandainya engkau tidak mengumumkan kepada kita berkali-kali, tentu saya tidak mengemukakan hal ini: Sungguh saya pernah bersama engkau didalam perang Badar, sedang unta saya mengikuti unta milik engkau, maka saya turun dari unta dan saya mendekati engkau agar saya bisa mencium paha engkau; tiba-tiba engkau telah mengangkat tongkat dan engkau pukulkan unta agar berjalan cepat dan engkau pukul juga tulang rusuk saya, maka saya tidak tahu apakah Rasulullah bersengaja, ataukah hendak memukul unta engkau sendiri?.

Rasulullah Saw bersabda: “ Hai Ukasyah, Rasulullah dijauhkan bersengaja memukul engkau.”

Selanjutnya Nabi Saw bersabda kepada Bilal: “Hai Bilal, pergilah engkau kerumah Fathimah dan ambilkan tongkat saya”.

Bilalpun keluar dari masjid Rasulullah Saw. Sambil meletakkan tangannya diatas kepala dan berkata sendiri: “Inilah Rasulullah yang telah menyediakan dirinya untuk diqishash (dibalas)”.

Setibanya Bilal dirumah Fathimah, dia mengetok pintu.

Sahut Fathimah: “Siapa itu dipintu?.”

Kata Bilal: “Saya. saya datang kemari untuk mengambil tongkat Rasulullah”.

Kata Fathimah: “Hai Bilal, untuk apa ayah memerlukan tongkat?.”

Kata Bilal: “Hai Fathimah, sesungguhnya ayahmu Rasulullah, telah menyediakan diri untuk diqishash (dibalas)”.

Kata Fathimah: “Hai Bilal, siapakah orangnya yang sampai hati akan mengqishash Rasulullah?”.

Kemudian Bilal mengambil tongkat dan terus pergi masuk ke masjid serta menyerahkan tongkat kepada Rasulullah, dan Rasulullah menyerahkan  tongkat itu kepada Ukasyah.

Melihat yang demikian itu maka Abu Bakar dan Umar berdiri seraya berkata: “ Hai Ukasyah, kami berdua berada dihadapanmu, maka qishashlah kami dan jangan kamu mengqishash Rasulullah”.

Rasulullah menegor keduanya: “ Hai Abu Bakar dan Umar duduklah engkau keduanya!. Sungguh Allah Ta’ala telah mengetahui tempatmu berdua”.

Maka Ali Ra. Berdiri seraya berkata: “Hai Ukasyah, saya didalam hidup ini selalu disamping Rasulullah Saw, maka tidak sampai hati saya melihat engkau mengqishash Rasulullah dan inilah punggungku dan perutku, qishashlah dengan tanganmu dan pukullah saya dengan tanganmu”.

Sabda Rasulullah Saw: “ Hai Ali, (duduklah), sungguh Allah telah mengetahui tempatmu dan niatmu”.

Hasan dan Husain berdiri seraya berkata keduanya: “ Hai Ukasyah tidakkah engkau tahu, bahwa kami berdua cucu Rasulullah, maka engkau mengqishash kami berarti sama saja mengqishash Rasulullah”.

Kata Rasulullah Saw.: “ Hai buah hatiku, duduklah kamu keduanya!.”

Kemudian Rasulullah Saw. bersabda kepada Ukasyah: “ Pukullah jika engkau hendak memukul”.

Kata Ukasyah: “ Wahai Rasulullah, engkau telah memukul saya sedang saya tidak berpakaian/tidak berbaju”. Maka Rasulullah membuka pakaiannya, sehingga para muslimin semua menjerit sambil menangis.

Tatkala Ukasyah melihat badan Rasulullah yang putih itu, dia menubruk/memegangnya dan menciumi punggungnya seraya berkata: “Saya tebus engkau dengan jiwaku, wahai Rasulullah, siapakah orang yang sampai hati meng-qishash engkau; sungguh saya melakukan yang demikian itu dengan harapan  agar supaya  badan saya bersentuhan dengan badan engkau yang dimuliakan, dan Tuhanku Allah menjaga saya dari neraka dengan sebab kehormatanmu”.

Nabi Saw bersabda: “Ketahuilah, barangsiapa ingin melihat ahli surga  hendaklah dia melihat orang ini.”

Maka berdirilah kaum muslimin dan menciumi diantara kedua mata Ukasyah sambil berkata: “ Keuntungan besar bagimu, engkau telah memperoleh derajat yang tinggi dan berteman dengan Rasulullah Saw didalam surga.

“Ya Allah, mudahkanlah bagi kami sekalian akan memperoleh syafa’atnya ( Nabi Saw) dengan kemuliaaan dan keagungan Engkau”. ( Dari Al Mau’izdati hasanati).

Kata Ibnu Mas’ud : “Tatkala Rasulullah Saw. Telah mendekati ajalnya, beliau mengumpulkan kami sekalian dikediaman ibu kita Siti ‘Aisyah, kemudian beliau memperhatikan kami sekalian sehingga berderailah air matanya dan bersabda: “Selamat datang bagi kamu sekalian dan mudah-mudahan kamu sekalian dibelas kasihani oleh Allah; saya berwasiat agar supaya kamu sekalian bertaqwa kepada Allah serta mentaati-Nya. Sungguh telah dekat hari perpisahan kita dan telah dekat pula saat hamba yang dikembalikan pulang kepada Allah ta’ala dan menempati surganya. Kalau sudah datang saat ajalku, hendaklah Ali yang memandikan, Fadhal bin Abas yang menuangkan air dan Usamah bin Zaid yang menolong keduanya.

Kemudian kafanilah aku dengan pakaianku sendiri bila kamu sekalian menghendaki, atau dengan kain Yaman yang putih. Kalau kamu sekalian memandikan aku, maka taruhlah aku diatas balai tempat tidurku dirumahku ini, dekat dengan lobang lahadku. Sesudah itu keluarlah kamu sekalian barang sesaat meninggalkan aku . Pertama-tama yang menshalati aku ialah Allah ‘azza wa jalla, kemudian Malaikat Jibril, kemudian Malaikat Israfil, lalu Malaikat Mikail, kemudian Malaikat juru pati(‘Izrail) beserta para pembantunya, selanjutnya semua para Malaikat. Sesudah itu masuklah kamu sekalian dengan berkelompok-kelompok dan lakukanlah shalat untukku”.

Setelah mereka mendengar ucapan perpisahan  Nabi Saw. maka para sahabat semua menjerit dan menangis seraya berkata: “Wahai Rasulullah, engkau adalah seorang utusan untuk kami sekalian, menjadi kekuatan dalam pertemuan kami dan sebagai penguasa yang mengurus perkara kami; bilamana engkau telah pergi dari kami, kepada siapakah kami kembali dalam segala persoalan?’.

Rasulullah Saw bersabda: “Telah kutinggalkan kamu sekalian pada jalan yang benar dan diatas jalan yang terang dan telah kutinggalkan pula untuk kamu sekalian dua penasihat, yang satu pandai bicara dan yang satunya diam saja. Yang pandai bicara ialah Al Qur’an dan yang diam adalah ajal. Apabila ada persoalan yang sulit bagimu, maka kembalilah kamu sekalian kepada Al Qur’an dan kepada sunnah; dan kalau hati kamu keras membatu , maka lunakkanlah dia dengan mengambil tamsil ibarat dari hal ihwal mati.”

Sesudah itu maka Rasulullah Saw. menderita sakit mulai akhir bulan Shafar selama delapan belas hari dan sudah sering ditengok oleh orang-orang/para sahabat. Sedang penyakit yang diderita mulai pertama sehingga akhir hayatnya ialah pusing/kepala.

Lanjut ke bag-2