Senin, 28-12-2009, Jam 4 pagi…
Tak terasa beberapa hari lagi tahun sudah akan berganti menjadi tahun 2010. Betapa cepatnya dunia berputar, berlalu meninggalkan kenangan. Detik demi detik, menit demi menit jam berdenting terus, bulan, tahun, tiba-tiba sudah berada dipenghujung tahun 2009.Sampai dimanakah sudah potret perjalanan dunia ini?. Kini teman-teman lama sudah entah dimana, menjalani kehidupannya masing masing. Mengais rezki untuk menghidupi anak istrinya. Ayah ibu sudah tua tapi kurasakan aku masih belum bisa membalas kasih sayang mereka itu….

Masih jelas dalam ingatan masa-masa kecil yang membawa kenangan indah bagiku. 35 tahun yang lalu aku masih berumur 5 tahun. Pada waktu itu aku bersama adik perempuanku masih tinggal dalam rumah yang sangat kecil, bekas ruangan kantor sekolah yang tidak dipakai, tempat ayahku mengajar. Namannya SMP Persiapan Aek Nabara. Kutanyakan ibuku apakah SMP itu masih ada sampai sekarang. Ibuku berkata,tempat kita dahulu itu masih ada tetap sebagai SMP swasta.

Aeknabara adalah kota yang sangat kecil tempat aku dibesarkan oleh orang tuaku beserta keempat adikku. Kota ini jaraknya 300 km dari tempatku meniti kehidupan sekarang ini, Medan. Aek Nabara adalah sebuah kota yang dibelah oleh sebuah sungai kecil selebar 5 meter tempat saluran pembuangan penduduk kota. Pada waktu itu airnya masih jernih tapi sudah tidak layak untuk dipakai mandi-mandi.

Sungai ini membawa kenangan tersendiri bagiku.Masih kuingat sewaktu SD bila aku dimarahi ibu, maka pergilah aku kekota yang berjarak 350 meter dari rumahku. Kucari tali-tali plastik, kusambung-sambung, lalu aku pergi ketempat jualan kelapa untuk mengambil sabutnya. Sabut ini kuikat pada ujungnya, lalu aku pergi kejembatan sungai, kulemparkan sabut itu untuk bermain kapal-kapalan sambil termenung memikirkan kenapa aku dimarahi ibu. Setelah puas barulah kulepaskan tali peganganku, maka berlayarlah kapal-kapalanku itu sendirian sampai hilang dari pandanganku dibelokan sungai. Kemudian aku pergi menonton jualan obat dipinggir jalan. Pada waktu itu namanya “Jualan Akrobat” karena sebelum penjual menjual dagangannya, terlebih dahulu penonton disuguhi atraksi, misalnya potong lidah tapi nggak putus dll. Di Medan ini sekarang beberapa kali aku masih melihat atraksi pinggir jalan itu seperti di stadion sepakbola Teladan, pajak Pringgan atau pajak Pulo Brayan.

Sewaktu SD,seringkali aku menonton jualan obat dipinggir jalan. Sekali waktu aku menonton jualan akrobat untuk obat kuat pria yang ternyata penjualnya adalah guruku sendiri sewaktu SMA. Namanya Pak Harahap, guru matematikaku dikelas 1 SMA. Orangnya kurus karena kuat merokok , kulitnya putih, tidak seberapa tinggi tapi sangat pintar berbicara dan melawak. Kalau pakai jas tampak seperti pejabat pemerintah.Karena bakatnya itu, beliau bisa menjadi kader partai Golkar. Bila aku telah puas bermain sendirian di kota barulah aku pulang kerumah sambil diam-diam masuk kekamar.Besoknya ibu sudah tidak marah lagi. Bermain kapal-kapalan disungai kecil itu adalah tempat pengaduanku. Sering aku melakukannya, bila dimarahi ibu.
bersambung…………..

Senin, 28-12-2009, Tengah Hari

Aku lahir di kota Rantau Prapat 40 tahun yang lalu, tepat disalah satu rumah dipinggir sungai dekat jembatan sungai bilah. Kalau aku pulang kampung dan melintas dijembatan itu, batinku teringat yang manakah satu rumah kami waktu dulu. Pada waktu baru berumah tangga kehidupan ayahku dan ibuku sangat susah, namanya baru berumah tangga. Waktu mau habis sewa rumah pertahun terpaksalah ibuku dan ayahku pindah sementara pulang kekampung ayahku di Sipiongot untuk menderes getah karet ompungku. Katanya gaji guru waktu itu tidak cukup untuk mengumpulkan uang untuk sewa rumah, hanya cukup membeli beras. Kalau mau makan sayur kangkung harus permisi mengambilnya kesawah orang dibelakang rumah. Aku sudah pernah sekali pulang kekampung ayahku. Kalau dulu katanya kita harus naik bot kehulu sungai bilah selama setengah hari dan berhenti di sampuran. Dinamakan sampuran karena disitu ada air terjun setinggi kira-kira 2 meter jadi boat tidak bisa naik lagi kehulunya. Dari sampuran inilah baru jalan kaki lagi kira-kira setengah hari juga kehutan belantara kampung. Sekarang ke kampung itu sudah ada bus, tapi jalannya dari kota Sigambal, pertengahan antara Rantau Parapat dan Aek Nabara.

Ibuku mengandungku lebih sedikit dari 9 bulan. Aku lahir tepat setelah selesai Adzan Magrib diklinik Kartini Rantau Prapat. Ayahku sangat kesusahan untuk mencari tambahan uang untuk menebusku keluar dari klinik. Pada waktu mau pulang akhirnya ayahku mengaku dan minta tolong sama bidan pemilik klinik supaya bisa ditangguhkan biaya bersalin ibuku. Untunglah bidan itu kasihan,dan mengatakan berapa yang ada uang ayahku , segitulah kasih, inda… pola i. (nggak masalah), katanya.. Pada waktu itu kendaraan dikota Rantau Prapat masih berupa Sado dan akupun diboyong kerumah dibawah jembatan itu dengan naik sado. Itulah pertama kali aku menghirup udara kehidupan dunia ini.

Seminggu kemudian barulah datang ompung dari ibuku dari Tebing Tinggi. Kata ayahku waktu mereka sampai nggak ada apa-apa mau dimasak hari itu. Untunglah ompungku datang dengan membawa oleh-oleh berupa kelapa, beras, ayam dll. Kalau mengingat itu ayahku menangis, katanya. Diwaktu itulah aku dinamai ompungku si Burhanuddin karena ada tanda tahi lalat dileherku sebelah kiri.

Karena susahnya kehidupan ayahku waktu itu, pindahlah kami kekampung namanya Parlaisan kira-kira 20 km dari Rantau Prapat sepanjang hilir sungai bilah. Pertama kali punya sawah karena menebang hutan di Parlaisan itu, tapi terpaksa ditinggalkan karena tanahnya kurang subur. Rumah kami masih bertangga dan berdinding kulit kayu, kalau tidur harus pakai kelambu karena banyak nyamuk. Lalu ayahku menebang hutan lagi ke Tanjung Harapan namanya, kira kira 6 km dari Parlaisan, makin kehilir sungai bilah. Sawah inilah penghidupan tambahan ayahku sampai aku kelas 2 SMP.

Kalau bersawah ibuku selalu menggendongku dibelakang sambil menajak rumput berawa-rawa., sementara ayahku mengajar SMP swasta di Aek Nabara. Pernah sekali pas menajak disawah ibuku terpeleset kebelakang akibatnya aku terendam lumpur tertimpa ibuku. Ibuku sangat takut pada waktu itu, tapi untunglah aku tidak apa-apa dan tidak menangis sedikitpun, katanya. Dengan bersepeda ayahku pulang pergi tiap hari sejauh 10 kilometer. Kata ibuku, kalau aku sudah bangun ketika pagi ayahku berangkat mengajar, pasti aku minta dibeliin es lilin pulangnya. Bila ayahku sudah pulang, dari jauh lagi aku sudah berlari meminta es lilin kesukaanku walaupun sudah cair tapi masih dingin.

Kira-kira umur 5 tahun, kamipun pindah ke bekas kantor sekolah SMP Persiapan Aek Nabara, tempat ayahku mengajar pelajaran sejarah. Nanti waktu musim tanam berikutnya sekitar bulan sebelas barulah kami pindah lagi berumah ditengah sawah. Waktu itu padi masih ditanam setahun sekali, belum ada bibit unggul dan belum ada irigasi..

Mulai sekolah, aku SD di SD Neg. No.112166 dikenal dengan nama SD 2. Aku tak tahu apa sebabnya dinamakan SD 2 , mungkin SD Neg. ke-2 dibangun dikampungku pada waktu itu, sebab ada juga namanya SD 1, SD3 & SD 4. Aku kelas 3, ada SD baru namanya SD Inpres. SD Inpres ini bangunanya sudah dari tembok, lebih cantik. Kepala sekolah kami ayahku sendiri J. Ritonga.

Sewaktu SD kelas 2 guruku namanya Ibu Fauziah Batubara. Ibu itu masih gadis kala itu. Ruangan kelas kami masih terbuat dari papan, berlantai tanah dan pakai atap daun rumbia. Bangku kami terdiri dari 5 kolom. Dimanakah kamu sekarang kawan-kawan?. Disanalah aku sekolah, duduk pada pinggir kolom sebelah kiri, baris no 2 dari depan.

Kebiasaan orang tuaku kalau dulu beli sepatu harus yang longgar sedikit supaya bisa dipakai untuk 2 tahun. Demikian juga dengan baju ataupun celana. Seragam SDnya celana pendek warna merah minus celana dalam, baju putih, dan sepatu harus hitam. Begitu kata Bapak Kepala Sekolah pas upacara bendera,. Ya… itu tadi ayahku sendiri. Karena kebiasaan ayah membelikan seragam yang loggar, sekali waktu pas aku berdiri didepan meja kawan yang duduk dibangku depan, tiba-tiba celanaku jatuh melorot sendiri sampai kelantai. Untunglah burung punaiku nggak terbang dari sangkarnya. Dilain waktu setelah masuk kuliah , aku bangun pagi, kulihat kebawah ternyata punai itu sudah bertukar menjadi burung garuda. Secepat kilat aku naikkan kembali celanaku. Sambil memegangi celanaku, aku berlari kebangkuku. Kejadian yang baru kali ini kuceritakan terjadi pas mata pelajaran membaca. Aku tidak tahu apakah guruku tadi melihat celanaku melorot. Kulihat dia diam saja memerikasa bacaanya dibangku guru depan, berarti tadi nggak lihat ada kejadian spektakuler, pikirku. Buku pelajaran membaca kami namanya Ayo Membaca. Isinya tentang Ini Bapak Budi, Ini Ibu Budi, Ini Kakak Budi. Semuanya tentang si Budi. Sampai sekarang sudah 33 tahun, nggak kenal aku sama si Budi itu, kok seringkali ditulis di buku itu.

Sepulang sekolah aku ceritakan sama ibuku celanaku melorot tadi disekolah, ibuku ketawa dan besoknya aku sudah pakai tali pinggang baru.

Tidak berapa lama aku kelas 2 SD, kami pindah ke ruangan yang lebih baik. Masih dari papan tapi sudah berlantaikan semen dan atapnya seng. Ruang kelasku yang lama akan dibongkar dan dibangun gedung baru.

SD kelas 2 itu juga kami pindah lagi kerumah baru bekas rumah kepala sekolah SMP persiapan itu. Mereka sudah pindah kerumah yang baru dibangun di N-4 (North-4). Rumah kami ini rumah bertangga yang dikopel dua dengan rumah sebelah. Masih beratap rumbia bekas perumahan karyawan perkebunan karet Belanda, Wing Foot. Dulu Aek Nabara itu namanya Wing Foot, baru bertukar jadi Aek Nabara. Letaknya dipinggir jalan mau ke Negeri Lama arah kekota sekitar 400 meter dari SMP swasta itu.

SD kami bersebelahan dengan SD 3. Didepannya terdapat lapangan besar sepak bola. Disebelahnya lagi itulah SMP Persiapan AekNabara. Klub sepabola kota kami namanya Rajawali Putra dan sangat terkenal se Labuhan Batu. Kiper terkenalnya namannya Bang Ambo, abangnya kawanku sebaya. Akupun seingatku waktu SD sangat pandai main bola kaki. Tapi setelah SMP aku jarang main lagi karena badanku tetap kecil jadi kawan enggan mengajakku dalam satu team bola. Akhirnya aku jarang main bola kaki apalagi dilapangan yang asli.

Kalau 17 Agustus kami upacara dilapangan itu. Sekolah-sekolah se Aek Nabara upacara disitu. Selesai upacara ada atraksi Jaran Kepang dan Reog Ponorogo dari desa Sukamulia dan Sidorukun. Entah kenapa waktu kecil aku takut sekali mendengar suara gending reog ponorogo. Kalau kudengar suaranya dari jauh cepat-cepat aku berondok kebawah tempat tidur kami sangkin takutnya. Sekarang lapangan itu sudah tidak ada mulai sejak aku kelas 4 SD. Dibiarkan ditumbuhi lalang. Sewaktu aku SMP dibangun dilapangan bola kaki itu Kantor Kepala Desa Perbaungan namanya, terus kantor LKMD, terus puskesmas sampai akhirnya habis tanah itu. Sewaktu SD juga ditempat kami dibangun kantor pos baru dipinggir bekas lapangan bola kaki , sebelahnya dibangun kantor telkom sisa terkahir tanahnya dibangu kantor polisi ketika aku SMA.. Maka lengkaplah sudah lapangan bola kaki tidak ada lagi dikampungku sejak itu.

SD kelas dua pelajaran matematika untuk pengurangan sangat sulit bagiku. Tambah-tambah aku sudah bisa, tapi kalau kurang-kurang sangat sulit kupahami apalagi hasilnya minus. Sangat sulit kucerna. Misalnya 2 dikurang 5, mula mula letakkan diatas meja  lidi 2 buah, baru ambil satu-satu lidi itu sebanyak 5x. Wah gimana tuh  baru diambil 2x, lidinya udah habis..gimana yang tiga lagi mau diambil dari mana ?. Itu pertanyaan yang sulit bagiku waktu itu. Lalu guruku mengajarkan cara yang lain untuk menjawab pertanyaan kurang2 tadi. Mula-mula  tandai titik nol dibuku kotak-kotak, lalu tarik garis panah mendatar kekanan sepanjang dua kotak. Kemudian dari titik nol tadi, tarik lagi garis panah mendatar tapi arahnya kekiri sepanjang 5 kotak.  Kalau panah kekanan itu artinya tandanya positif tapi kalau panah kekiri itu tandanya negatif. Nah sekarang dibandingkan panjang kedua panah, berapa selisih panjangnya..ok, sebelah kiri lebih panjang dan selisihnya 3 kotak. Sekarang tuliskan angka tiga dulu  setelah tanda sama dengan. Tapi nanti dulu itu belum selesai, arah panah kemana yang berlebih selisihnya. Kalau kearah sebelah kanan tuliskan positif tapi kalau sebelah kiri tuliskan negatif didepan angka jawaban. ohh…ok  sebelah kiri lebih panjang berarti  jawabannya minus tiga. Begitu kata ibu guru. Tapi cara yang inipun masih sulit kupahami..huhhh..dasar bloon….Sekali waktu ada PR matematika kurang-kurang, aku minta diajari ayahku dirumah. Dengan memakai lampu teplok ayahkupun mengajaraku sambil marah-marah karena aku terlalu tolol untuk kurang-kurang. Pakai lampu teplok karena genset langganan dari bengkel las lagi rusak. Kalau siang genset dipakai bengkel untuk mengelas, baru malamnya dipakai untuk penerangan penduduk. Waktu itu tegangan listrik masih 110Volt, bayarannya aku nggak ingat lagi berapa perbulan. . Sekali itu saja aku pernah diajari ayahku belajar, habis itu tidak pernah lagi. Kelas tiga baru otakku agak tokcer untuk kurang-kurang. Kali ini tidak sulit lagi aku memahami matematika. Rupanya otakku mulai berkembang setelah mulai kelas 3 SD. Dan langsung pandai, buktinya aku juara tiga. Juara satunya namanya si Ahmad anak pondok N-4. Sekali waktu aku main kerumahnya makan jambu bol. Ayahnya sudah meninggal. Mereka berjualan dirumah.

Mulai kelas 3 itu aku sekolah masuk siang, guruku sekarang Ibu Nurmai Ritonga. Ibu itu kalau menyuruh mengerjakan soal-soal bahasa Indonesia banyak sekali sampai lima lembar, sampai bosan aku menjawabnya. Sembari kami mengerjakan tugas bahasa indonesia, ibu itu memeriksa PR kami semalam. Kawanku ada satu anak kampung N-6. Dia sangat pandai menggambar apalagi gambar mobil truk pasti cantik sekali. Sering aku iri melihatnya pandai menggambar. Tapi ada satu penyakitnya, dia itu suka teleran bernanah kupingnya. Walau sering ditutupnya pakai kapas tapi kalau siang menguap aku sering mau muntah.

Kawanku satu bangku namanya Harkat Kesturi, anak Dokter Rumah Sakit Umum PTP. III, Aek Nabara. Namanya Dokter Thamrin. Kami duduk dibangku paling depan kolom no 3 dari kiri, karena badan kami dua kecil kali waktu SD. Ibu guruku mejanya disudut depan kiri dekat pintu masuk. Tas kawanku Kesturi kesekolah sudah merek president berwarna hitam ber les putih terbuat dari aluminium yang cantik itu. Tasku gitu juga bentuknya dibelikan ibu tapi dari plastik ,warnanya biru entah merek apa itu namanya. Sepatunya dari kain yang mahal berwarna hitam entah apa mereknya, sepatukupun berwarna hitam tapi dari karet dan kali ini aku tau mereknya yaitu Taiyoko. Enam bulan pasti koyak karena dari karet murahan. Kalau pergi sekolah tasku kepenuhan dengan buku-buku sehingga badanku yang kecil itu kepayahan membawanya. Didalamnya selain bukuku turut serta juga buku-buku mengajar sejarah ayahku sampai ayahku kecarian. Dari kecil memang aku suka membaca, entah dari mana kudapat bakatku itu. Kuingat ayahku nggak suka membaca, ibuku apalagi. Ompungku dari ayahku dan ibuku nggak pernah sekolah. Jadi aku bingung sekarang ini darimana dapatku hobbi membaca. Kuanggap ajalah dari langit ini turunnya supaya nggak stress memikirkannya.

Si Kesturi juga sering bawa susu tepung kalau kesekolah. Sambil belajar kadang aku dibaginya susu. Menyusup sebentar kebawah meja untuk makan susu tepung. Sekali waktu aku ketahuan guru, mulutku berlepotan tepung susu karena buru-buru tadi. Ibu itu hanya ketawa saja melihatku, nggak marah, mungkin karena ayahku kepala sekolah kami. Kalau kawanku yang lain pasti sudah kena marah kalau seperti itu. Kelas tiga SD tahun itu kenaikan kelas lebih lama menjadi satu setengah tahun karena Departemen Pendidikan Nasional mengatur agar keanaikan kelas berada pada bulan 6, bukan lagi bulan Desember..

Aku dan Kesturi berpisah sekolah sewaktu SMP, karena dia lanjut SMP ke Medan aku masuk SMP Neg. 1 Aek Nabara.. Liburan semester pertama SMP dia datang dengan kawannya yang baru kerumahku. Kami jalan-jalan naik sepeda ke Kampung Sukamulia. Sekarang dia sudah berubah, sudah mau merokok, aku diam saja waktu ditawarinya rokok.
bersambung…….

Senin, 28-12-2009, Tengah Malam

Kelas 4 guruku namanya Ibu Murni. Sekolah masih masuk siang. Tiba-tiba ayahku membelikanku gitar keroncong . Mungkin kata guruku sama ayah, aku pandai bernyayi disekolah. Kemudian aku dibelikan bola plastik, mungkin juga karena aku dilihatnya pandai bermain bola kaki. Kedua barang ini kujaga sekali. Waktu masuk SMP kedua barang itu hilang begitu saja karena tidak aku perdulikan lagi.

Sekali waktu kampung kami hujan deras berhari-hari sampai-sampai sungai kecil dikota itu meluap dan banjir. Horee…nggak jadi sekolah karena guru kami nggak bisa melewati kota untuk mengajar, kota banjir besar. Di usia itu muncul kebiasan baruku, kemana-mana bawa kain panjang. Sambil bermain dengan kawan-kawan, kuisap-isap ujung kain gendong. Bila sudah basah kuambil ujung yang lain yang masih kering. Begitu berganti-ganti kuemut-emut ujung kain itu sambil bermain. Inipun bakat aneh juga waktu itu, entah dari mana dapatku kebiasaaan itu. Setahuku tak pernah kudengar anak-anak mengisap ujung kain gendong. Kurasa akulah satu-satunya anak didunia ini yang melakukannya.

Nama-nama kawanku sepermainan waktu kecil, yang cowok si Endar anak wak sebelah rumahku sebelah kiri, si Obi anak uwak sebelah kanan rumahku, uwak itu kepala kantor telkom dikampungku, si Andak, si Jul, si Edi, si Harlin Tamba, si Annus Tamba, si Syahrial adiknya bang Ambo kiper kesebelasan kami. Si Annus kakinya tengklang sebelah karena keseleo kepijak lobang di tanah lapang sepakbola. Hari hujan disuruh ibunya menjunjungr makanan ternak babi orang itu ke lokasi peternakan dibelakang kantor pos. Babi masih sering berkeliaran beranak waktu itu di lalang tempat lapangan bola kaki. Kadang anaknya sampai sebelas kulihat.

Kawan kompakku dulu si Alfian anak wak kepala kantor pos. Sering aku bermain kerumahnya dikompleks kantor pos. Memanjat pagar tembok melihat kebawah peternakan babi, enak kali kami rasa. Entah kenapa pernah kami kles nggak kawanan sampai setahun lebih nggak cakapan.

Kalau hari minggu jam sepuluh pagi aku pergi ke rumah nantulangku di Pondok Batu namanya. Anak nantulang itu, bang Samsudin agak berandal, disuruh sebagai penjaga oleh pemilik bioskop Nasional. Jadinya aku menonton gratis bertiga bersama adiknya si Apek dan si Pian. Karcis waktu itu masih Rp.500 kuingat. Terakhir abang itu masuk tentara dan bertugas di Palembang. Nggak bisa lagi nonton gratis. Pernah juga aku sekali diajak ayahku menonton film di bioskop pas lagi tenar film Kingkong.

Kawan yang perempuan si Upik, si Tetty dan Tengku Cik Nong yang cantik itu. Cik Nong pernah datang lagi kekampungku waktu aku SMA kelas 1 dari kota Gunting Saga tempat orang tuanya. Bulan puasa, aku lagi kaco dodol buka baju dibelakang rumah, dia datang bersama si Upik. Burhan, ini Cik Nong mau jumpa, katanya di selalu teringat samamu, karena waktu kecil kau nakal sekali suka menganggu dia main guli. Aku sangat malu waktu itu, kulihat dia sudah cantik sekali dan badannya lebih besar dari aku. Rambutnya panjang agak keriting, kulitnya putih bersih. Darahku berdesir, mukaku pucat. Jadinya aku diam sajalah…karena malu. Diapun hanya tersenyum saja melihatku, kamipun sama-sama terdiam, sebentar kemudan dia pulang lagi. Itulah perjumpaan terakhirku dengan dia. Entah dimana dia sekarang, sudah berapa anaknya…enggak tahulah. Ehhhh.. dodolku mau hangus..gara-gara terpana melihat kepergian Cik Nong. Note: Mudah-mudaan cerita yang satu ini nggak terbaca istriku yang sekarang, bisa putus nanti markisa dingin kalau aku pulang kerja.

Susu jarang sekali aku minum waktu itu. Kalau mau minum susu itupun nggak sengaja, pas main kekota jumpa ayah dikedai kopi wak Tumali. Kebiasaan ayahku selepas mengajar waktu itu kumpul dengan kawannya main catur atau halma. Minum susulah aku, makan kue banyak-banyak kalau aku jumpa ayah dikota. Ayah nggak marah aku minta apa-apa pas di kedai kopi. Kebiasaan ayah satu lagi ialah makan durian. Kuat kali makan durian. SMP aku, kalau sudah musim durian aku disuruh beli kekota, pulangnya cuma boleh makan tiga biji. Anak-anak nggak boleh makan durian banyak-banyak nanti sakit perut, katanya. Sekarang ayah sudah tua nggak boleh lagi makan durian, kena sakit gula. Kasihan ayah.

Sekali waktu kepalaku kena lempar batu hingga berdarah. Aku dibawa ke klinik mantri dikampungku namanya Haji Harmaini. Sewaktu menggunting rambutku yang bocor baru ketahuan ada kurap sebesar pantat gelas dikepalaku. Diobati pakai kalpanax perihnya bukan main. Lama-kelamaan rambut disitu gugur membentuk bulatan. Untuk menutupi maluku, ibuku memakaikan kopiah kalau sekolah supaya jangan diejek kawan, kurapan. Kaki berkudis , ini juga penyakitku waktu kecil. Lasak bermain-main , nggak pakai selop sering kena kaca, kudisan. Dulu anak-anak dikampungku nggak ada yang pakai selop. Semua kaki ayam. Baju dan celana untuk bermain nggak ada istilah digosok. Cuma seragam sekolah aja yang digosok pakai gosokan arang. Sampai tamat aku SMP gosokan kami masih gosokan arang.

bersambung…..