ALLAH MENJAMIN REZKI TIAP-TIAP MAKHLUK

Adapun rezki adalah segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya harta adalah apa yang kita miliki sekarang untuk dapat diambil manfaatnya.

Allah berfirman:

Al Qur'an Surat Huud ayat (6)

Surat An An'am (Binatang Ternak) ayat (38)

Al Qur'an Surat An An'am (Binatang Ternak) ayat (59)

Ayat-ayat diatas menceritakan bahwa yang melata di atas bumi tidak usah khawatir akan kekurangan rezki, sebab Allah sudah menyediakannya. Kalimat Daabbatin  pada surat Huud ayat 6, diartikan sebagai segala yang berjalan, merangkak, merayap, menjalar.  Sebab itu masuklah di dalamnya sekalian manusia, sekalian binatang berkaki empat, binatang berkaki banyak, demikian juga serangga, cacing, nyamuk dan lain-lain.

Allah mengetahui dimana menetapnya Daabbatin, atau segala yang menjalar, melata, merangkak dan berjalan itu. Didarat kah atau dilaut, di hutan kah atau mereka di padang belantara. Sampai kepada tumbuh-tumbuhan, sudah ada pembagian kemungkinan tempat tumbuh dan tempat berbuahnya.

Khusus bagi manusia, Allah mengetahui di mana tempat menetap mereka. Untuk semuanya itu Allah telah menyediakan rezkinya. Pembagian rezki, tempat lahir, tempat tinggal dan kemudiannya kuburan buat berhenti  istirahat sementara, sudah ada kitabnya, artinya semuanya itu sudah ada catatannya disisi Allah SWT (yakni di Lauh Mahfuzh :ujung ayat  6 surat Huud diatas).

Kisah teladan 1:

Diceritakan Imam Zahidy ingin meyakinkan dengan seyakin-yakinnya dalam masalah rezki. Maka dia pergi keluar  dan menuju gunung, kemudian masuk ke dalam gua dan duduk disudut gua itu.

Imam Zahidy berkata : “Dan saya ingin melihat bagaimana Tuhanku, Allah memberi rezki kepadaku”

Tiba-tiba ada sekelompok kafilah yang sedang tersesat dan hujanpun turun, sehingga mereka mencari tempat untuk berteduh. Mereka menemukan sebuah gua yang didalamnya terdapat imam Az Zahidy tadi. Kafilah itu mengenal imam tersebut dan menegurnya: Hai fulan/hamba Allah!”.

Imam Zahidy tidak menjawab.

Kafilah berkata: ”Mungkin dia kedinginan, sehingga tidak bisa berbicara”. Mari kita menyalakan api  dan memberikan pemanasan kepadanya serta mengajaknya bicara.

Imam Zahidy tetap tidak menjawab.

Kafilah itu berkata: ”Mungkin dia lapar”.

Kafilah itupun menghidangkan makanan dan memberi isyarat kepada imam untuk memakannya.

Imam Zahidy tidak mengambil sedikitpun dari makanan itu.

Kafilah: ”Ini sudah terlalu lama dia tidak mendapatkan sesuatu makanan, mari kita rebuskan susu hangat supaya dia mau makan dan minum.

Imam Zahidy sedikitpun tidak berpaling.

Kafilah: ”Gigi-giginya sudah merapat”

Maka dua orang dari kafilah itu berdiri dan mengambil pisau dan membuka mulutnya dengan pisau itu untuk memasukkan sepotong makanan kedalamnya.

Tiba-tiba Imam Zahidy tertawa.

Kafilah itu terkejut dan berkata: “Apakah engkau gila?”

Imam Zahidy menjawab: ”Tidak,tetapi saya datang kedalam gua ini ingin mencoba bagaimana Tuhan Allah menjamin rezki saya, maka sekarang saya menjadi tahu bahwa Dia, Allah memberi rezki kepada saya dan juga memberi rezki kepada hamba-Nya kapan saja, dimana saja dia berada dan bagaimanapun keadaannya.

Kisah teladan 2:

Diceritakan lagi bahwa sebab tobatnya Ibrahim bin Adham ialah sebagai berikut:

Pada suatu hari dia pergi untuk berburu. Ketika sampai disuatu tempat dia berhenti dan mengeluarkan bekalnya untuk dimakan. Tatkala sedang makan tiba-tiba datanglah seekor burung gagak dan menyambar sepotong roti dengan paruhnya.

Ibrahim bin Adham terkejut dan kagum terhadap hal itu. Maka dia mengendarai kudanya dan mengikuti  burung tersebut sehingga gagak itu sampai disuatu gunung dan menghilang dari pandangannya.

Maka Ibrahim bin Adham terus mendaki gunung itu untuk mencari burung itu sampai dia melihatnya dikejauhan. Setelah dekat dengan burung gagak itu , dia melihat seorang laki-laki yang terikat tangan dan kakinya serta tidur terlentang.

Dia lalu turun dari kudanya dan melepaskan ikatan tali laki-laki itu. Ibrahim Adham lalu bertanya tentang kisah laki-laki itu sehinga bisa terikat seperti itu.

Laki-laki itu berkata: ”Saya adalah seorang pedagang yang dihadang oleh para pembegal dan mereka mengambil semua harta yang saya bawa. Mereka tidak membunuh saya tapi mengikat saya dan melemparkan saya ditempat ini dan sudah tujuh hari lamanya.

Maka gagak itu datang kepadaku tiap-tiap hari dengan membawa roti serta bertengger didada saya dan memotong-motong roti dengan paruhnya serta memasukkan kedalam mulut saya. Dengan demikian Allah ta’ala tidak membiarkan saya lapar selama tujuh hari itu. Selanjutnya Ibrahim Adham naik kuda lagi dan memboncengkan pemuda itu ketempat  yang aman.

Sejak kejadian itu Ibrahim Adham bertobat kepada Allah ta’ala, melepaskan pakaian kebesarannya dan berganti mengenakan pakaian shufi/bulu serta memerdekakan semua budaknya dan mewakafkan semua tanah dan hak miliknya.  Kemudian dengan memegang sebuah tongkat dia pergi menuju kota Makkah tanpa membawa bekal dan kendaraan serta bertawakkal/berserah diri kepada Allah ta’ala. Dia tidak memikirkan bekal sama sekali dan dia tetap tidak lapar sehingga masuk kota Makkah dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.