JENIS-JENIS REZKI

Barangsiapa mempunyai harta sekedar mencukupi kebutuhannya saja, tanpa kelebihan itulah rezki yang sudah ditakdirkan baginya.  Allah SWT telah berfirman:

Al Qur'an surat Al Baqarah (Sapi Betina) ayat (2)

Al Qur'an surat Al Baqarah (Sapi Betina) ayat (2)Al Qur'an surat Al Baqarah (Sapi Betina) ayat (3)

Al Qur'an Surat Al Baqarah (Sapi Betina) ayat (4)Al Qur'an surat Al Baqarah (Sapi Betina) ayat (5)

Al Qur'an surat Al Hadiid (Besi) ayat (7)

Rezki itu pada hakekatnya ada 2 (dua) macam yakni:

( 1).  rezki yang terjamin (madhmun) dan

(2).  rezki yang terbagi-bagi (maqsum).

Rezki yang terjamin adalah rezki yang kadarnya cukup, artinya dalam batas cukup untuk menunaikan ibadah dan cukup untuk memenuhi keperluan melaksanakan kewajiban terhadap Allah. Selebihnya adalah rezki yang terbagi-bagi .  Rezki ini adalah rezki orang lain yang dititipkan.  Contoh rezki yang terbagi-bagi misalnya: Rezki tukang pangkas yang kita berikan ketika membayar upah berpangkas rambut.

Kelebihan rezki yang ada adalah harta amanat, dan harus dijaga baik-baik sebagaimana mestinya menurut ketentuan syariat.  Rezki yang kita peroleh harus disedekahkan sebahagian dan seharusnya juga digunakan untuk kepentingan akhirat semata-mata.  Mengapa harus disedekahkan sebahagian kepada orang lain padahal kita sudah capek-capek mengusahakannya sendiri . Jawabnya adalah: Kembali lagi seperti ayat-ayat diatas dan juga ayat dibawah , karena  Allah menyuruhnya demikian didalam Al Qur’an.

Al Qur'an surat Al Baqarah (Sapi Betina) ayat (254)

Meragukan rezki yang terjamin adalah kufur. Dalam hal itu, orang tidak boleh dengan sengaja berkata: ‘aku ingin duduk saja sambil melihat, barangkali akan datang kepadaku sesuatu!’. Orang yang mencoba hendak duduk saja dirumahnya, tetapi kemudian tak tertahankan lagi laparnya, ia wajib berusaha mendapatkan makanan yang dibutuhkannya dengan berbagai macam cara yang tidak bertentangan dengan syariat. Jika tidak mungkin kecuali dengan cara meminta kepada orang lain, boleh ia minta sekedar untuk mencukupi kebutuhannya. Dalam hal itu dapat dimaafkan. Jika ia tidak mau melakukan hal itu hingga ia harus mati, ia mati sebagai orang yang durhaka, sebab ia bunuh diri.