ETIKA MENCARI NAFKAH

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menyampaikan ancaman terhadap orang-orang yang memakan harta yang haram. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Hadits Riwayat Ahmad dan Ad Darimi

“Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya”. [HR Ahmad dan Ad Darimi].

Al Qurthubi, dalam tafsirnya menyebutkan, bahwa salah satu bentuk memakan yang haram adalah menerima suap.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan agar umatnya mencari harta yang halal. Pasalnya, ada dua pertanyaan yang terarah berkaitan dengan harta itu, tentang asal harta dan bagaimana membelanjakannya. Dalam hadits Abu Barzah Al Aslami Radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:


“Tidak akan bergeser tapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat, sampai ia ditanya tentang empat perkara. (Yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan kemanakah ia meletakkannya, dan tentang ilmunya, apakah yang telah ia amalkan”. [HR At Tirmidzi dan Ad Darimi].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita dalam banyak hadits, urgensi mencari rezki yang halal ini. Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda (artinya): Tidak ada satu pun amalan yang mendekatkan kalian ke surga, melainkan telah aku perintahkan kalian kepadanya. Dan tidak ada satu pun amalan yang mendekatkan kalian ke neraka, melainkan aku telah melarang kalian darinya. Janganlah kalian menganggap rezeki kalian terhambat. Sesungguhnya, Malaikat Jibril telah mewahyukan ke dalam hati sanubariku, bahwa tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezekinya. Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan cara yang baik. Jika ada yang merasa rezekinya terhambat, maka janganlah ia mencari rezki dengan berbuat maksiat, karena karunia Allah tidaklah di dapat dengan perbuatan maksiat. [HR Al Hakim dan selainnya].

Demikian pula hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Hadits dari jabir r.a.h

“Janganlah menganggap rezki kalian lambat turun. Sesungguhnya, tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezkinya. Carilah rezki dengan cara yang baik (dengan) mengambil yang halal dan meninggalkan perkara yang haram”.

Di dalam al Qur’an Allah berfirman:

Al Qur'an Surat Asy Syuura (Musyawarat) ayat (12) Al Qur'an Surat Saba (Kaum Saba) ayat (39)

Jadi sempit atau lapangnya rezki itu datangnya dari Allah SWT. Lapangnya rezki itu bukan karena kita tidak membelanjakan harta dan sempitnya rezki bukan karena kita  membelanjakan harta. Bahkan harta apa saja yang dibelanjakan dijalan Allah SWT, balasannya pasti diperoleh di akhirat, bahkan juga didunia. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa malaikat Jibril a.s. meriwayatkan firman Allah SWT ”Wahai hamba-hambaku, Aku telah memberi kenikmatan dengan karunia-KU, dan Aku meminta pinjaman dari kalian. Maka barangsiapa mau memberi kepada-Ku dengan suka rela dan dengan semangat, Aku akan mempercepat balasannya didunia, dan diakhirat akan Aku simpan   pahala itu untuknya. Dan barangsiapa memberi dengan tidak senang, tetapi dengan terpaksa, aku akan mengambil darinya apa yang telah Aku berikan kepadanya. Tetapi apabila kemudian ia bersabar atasnya dan mengharap pahala, Aku akan mewajibkan rahmat-Ku atasnya. Dan Aku akan memasukkannya kedalam golongan orang-orang yang mendapat hidayah, dan Aku akan mengijinkan kepadanya untuk melihat-Ku.(Kanzul-Ummal).

Hadits-hadits di atas memerintahkan kita agar memeriksa setiap rezki yang telah kita peroleh. Kita harus bersiap diri dengan dua pertanyaan, darimana harta itu diperoleh dan kemana dibelanjakan? Oleh karena itu, kita mesti mengambil yang halal dan menyingkirkan yang haram. Bahkan harta yang mengandung syubhat, hendaknya juga kita jauhi.

Dalam sebuah hadits dari An Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah menyatakan:

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Diantara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia akan terjerumus kepada perkara haram”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Rasulullah Shalallalhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat telah mencontohkan prinsip penting tersebut secara langsung. Betapa ketatnya mereka dalam memperhatikan urusan rezki ini. Mereka selalu memastikan dengan sungguh-sungguh, apakah rezki yang mereka peroleh itu halal lagi baik, ataukah haram.