TAWAKKAL DAN TAKWA

Kata Hatim Al Ashami: Tawakkal itu ada  empat macam:

1.Tawakkal kepada sesama makhluk. Orang yang bertawakkal kepada sesama makhluk akan berpendirian: “Selama sifulan itu masih ada, maka saya tidak akan susah”

2. Tawakkal kepada harta benda; Orang yang bertawakkal kepada harta benda akan berpendirian:”Selama hartaku masih banyak, maka tidak ada sesuatu yang  akan membahayakan aku”.

3. Tawakkal kepada diri sendiri. Orang yang bertwakkal kepada diri sendiri akan berpendirian: “Selama badanku masih sehat, maka tidak ada sesuatu yang kurang bagi saya”.

Ketiga jenis tawakkal diatas adalah tawakkal yang salah. Tawakkal yang benar adalah seperti yang disebutkan dibawah ini:

4. Tawakkal kepada Allah. Orang yang bertawakkal kepada Allah akan berpendirian: “Tidak peduli bagi saya menjadi orang kaya atau orang fakir, maka sesungguhnya saya mempunyai Allah yang akan menguasai/menjamin saya sekehendak-Nya.

Ibnu ‘Abbas radhiyallohu’anhuma mengatakan bahwa tawakkal bermakna percaya sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Imam Ahmad mengatakan, ”Tawakkal berarti memutuskan pencarian disertai keputus-asaan terhadap makhluk.” Al Hasan Al Bashri pernah ditanya tentang tawakal, maka beliau menjawab, ”Ridho kepada Allah Ta’ala”.

Mewujudkan tawakkal bukan berarti meniadakan usaha.  Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk berusaha sekaligus bertawakkal. Berusaha dengan seluruh anggota badan dan bertawakkal tentang hasilnya merupakan perwujudan iman kepada Allah Ta’ala.

Taqwa adalah kata yang sudah umum kita dengar dan sangat familiar baik di dunia keagamaan maupun pendidikan. Tapi alangkah baiknya kita sedikit kita kupas makna dari kata taqwa itu. Taqwa mengandung pengertian yang berbeda-beda di kalangan ulama, namun semuanya bermuara pada satu pengertian yaitu :

Seorang hamba melindungi dirinya dari kemurkaan Allah ˜azza wa jalla dan juga siksaNya. Hal itu dilakukan dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarangNya. Afif Abdulullah Al Fahah Thabbarah mengatakan Taqwa adalah seorang memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Allah dan dari segala sesuatu yang mendatangkan mudharat baik dirinya maupun orang lain.

Takwa adalah sebaik-baik bekal. Pedagang, pegawai atau apapun profesinya harus memiliki bekal takwa. Secara umum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dan mengancam para pedagang dengan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits dari Rasulullah“Para pedagang itu kebanyakannya orang-orang fajir”.

Pedagang yang fajir, yaitu pedagang yang tidak mengindahkan rambu-rambu syariat. Sehingga ia jatuh ke dalam larangan-larangan, seperti bersumpah palsu untuk melariskan dagangan, menipu, khianat, curang dan lain-lain.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm memuji pedagang yang jujur lagi bertakwa. Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Hadits dari Abu Sa’id Al Khudri Rah“Pedagang yang jujur lagi terpercaya akan bersama para nabi, kaum shiddiq dan para syuhada”. [HR At Tirmidzi, Al Hakim, dan Ad Darimi.

Demikian pula pegawai, harus berbekal takwa. Kejujuran dan sifat amanah merupakan buah dari takwa. Maraknya kasus-kasus korupsi, suap-menyuap, kecurangan, merupakan akibat hilangnya ketakwaan. Sehingga membuat seseorang menjadi gelap mata saat melihat gemerlap dunia.

Sebagian orang ada yang berprinsip, carilah harta sebanyak-banyaknya meski dengan cara-cara yang haram, seperti korupsi, suap, penipuan, kecurangan dan lainnya. Nanti setelah terkumpul harta yang banyak, baru berbuat baik, bersedekah dan lain sebagainya. Prinsip dan anggapan seperti ini jelas salah. Sebab Allah Maha Baik dan tidak menerima, kecuali yang baik-baik.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Hadits dari Abu Hurairah Rah“Barangsiapa mengumpulkan harta haram kemudian menyedekahkannya, maka ia tidak memperoleh pahala darinya dan dosanya terbebankan pada dirinya”.

Sedekah dan kebaikannya itu tidak bernilai sedikit pun di sisi Allah. Dia tetap terbebani dosa karena telah mengumpulkan harta melalui cara yang haram. Jadi, anggapan seperti di atas jelas keliru.

Kisah teladan 3:

Pada suatu hari: Kisra(Maharaja Persia), Anusyrwan, jalan melewati seorang tua yang sedang menanam pohon kurma. Kepada orang tua itu Kisra bertanya:”Mengapa pada usia setua ini engkau masih mau menanam kurma? Mungkin engkau tidak akan menikmati buahnya.

Orang tua itu menjawab:”Orang-orang dahulu menanam kurma dan kamilah yang memakan buahnya. Sekarang kamilah yang menanam, biar orang-orang sesudah kami  yang makan buahnya. Mendengar jawaban itu Kisra menyuruh pegawainya memberi uang 4000 dirham kepada orang tua tersebut. Lalu orang tua itu berkata: ”Pohon kurma biasanya baru berbuah setelah berumur 10 tahun, tapi ini dalam waktu satu jam saja sudah berbuah. Kisra kagum akan jawaban itu, lalu menyuruh lagi pegawainya memberi 4000 dirham kedua kalinya, seraya berkata:”Dia memang orang bijaksana”.

Sambil menerima pemberian kedua itu, orang tua itu berkata:”Biasanya pohon kurma berbuah setahun sekali, akan tetapi pohon kurma ini sudah berbuah dua kali sehari bagi saya”. Kisra memerintahkan lagi orang tua itu diberi 4000 dirham ketiga kalinya. Pada akhirnya Kisra berkata kepada pegawainya:”Mari kita pergi agar uang kita tidak habis terkuras”.