AYAT TERAKHIR AL QUR’AN YANG TURUN SEHUBUNGAN DENGAN FARDHU DAN KEWAJIBAN.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiimi;

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Al Qur'an surat Al MAaa'idah (Hidangan) ayat (3)Keterangan Al Qur'an surat Al Maa'idah ayat (5)

…Al yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa radhiitu lakumul islaama diinan…

….Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’matku, dan telah ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.  …. [Al Maa’idah (Hidangan)][5]:3.

Rasulullah Saw bersabda:

Malaikat jibril telah berkata kepadaku: “Hai Muhammad sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan sebuah laut dibalik gunung Qaf, dan dilaut itu terdapat ikan yang selalu membaca shalawat untuk kamu; maka barang siapa  yang mengambil seekor ikan dari laut itu  maka lumpuhlah kedua tangannya dan ikannyapun akan menjadi batu.

Ini mengisyaratkan bahwa, jika seseorang membaca shalawat untuk nabi Muhammad Saw, dan dia mengerjakan shalat lima waktu, maka dia akan selamat dari tangan siksa Malaikat Zabaaniyah dan selamat pula dari siksa neraka.

Diriwayatkan: bahwa ketika ayat diatas turun, maka Umar Ra menangis. Nabi bersabda kepadanya: “Apakah yang menjadikan engkau menangis, hai Umar?. Umar menjawab: “Yang menyebabkan saya menangis ialah kita bertambah urusan didalam agama kita; karena bila dia itu menjadi sempurna, maka tidak ada sesuatupun yang sempurna kecuali dia tetap kurang. Sabda nabi Saw: “Telah benar engkau” .(Abu Su’ud)

Kata “Al yauma” maka huruf lam (alif dan lam) itu menunjukkan arti masa/waktu, maksudnya ialah zaman yang akan datang dan sesuatu yang berhubungan dengan masa-masa yang telah lampau.

Diriwayatkan bahwa ayat tersebut diatas diturunkan sesudah waktu ashar pada hari Jum’at di Padang Arafah pada musim haji wada’ ( haji penghabisan), sedang Nabi Saw pada waktu itu berada di  Arafah dan diatas unta. Sesudah itu tidak ada lagi  ayat yang turun sehubungan dengan fardhu atau kewajiban.

Ketika ayat  tersebut turun Nabi Saw tidak kuat menerimanya, mengingat isi dan makna yang dikandung oleh ayat itu, maka beliau bersandar pada untanya dan untanyapun kemudian duduk. Maka turunlah malaikat Jibril dan berkata: “ Hai Muhammad, sungguh pada hari ini telah sempurna urusan agamamu, terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah  dan demikian juga apa yang dilarang  oleh-Nya. Maka kumpulkanlah para sahabatmu dan beritahukan kepada mereka bahwa saya tidak akan turun lagi sesudah hari ini”.

Nabi Saw terus kembali dari kota Makkah dan datang ke kota Madinah, kemudian mengumpulkan para sahabatnya dan membaca ayat tersebut serta memberitahukan kepada mereka apa-apa yang telah dikatakan oleh Malaikat Jibril. Maka para sahabatnya sama gembira sambil mengatakan: “ Agama kita telah sempurna”, kecuali Abu Bakar Ra, yang merasakan susah dan terus pulang menutup pintu serta menangis disiang hari maupun dimalam hari. Hal itu didengar oleh para sahabat yang lain, lalu mereka berkumpul dan datang kerumah Abu Bakar dan bertanya : “ Hai Abu Bakar, mengapa engkau menangis disaat riang dan gembira; karena Allah ta’ala telah menyempurnakan agama kita?. Abu Bakar menjawab: “ Hai para temanku, kamu sekalian tidak tahu musibah yang menimpa kamu; tidakkah kamu sekalian mendengar, suatu perkara itu bila sempurna menjadi tampaklah kekurangannya, dan ayat ini juga menunjukkan perpisahan kita ( dengan nabi Muhammad Saw), keadaan Hasan dan Husain menjadi yatim keduanya, para isteri nabi Saw. menjadi janda semuanya.”

Maka terjadilah jeritan jeritan/teriakan teriakan diantara para sahabat dan semuanya menangis. Selain mereka itu ada pula sahabat yang mendengar tangisan itu terdengar dikamar rumah Abu Bakar dan  mereka semua datag menghadap kepada Nabi Saw. seraya berkata: “ Wahai Rasulullah, kami tidak tahu, mengapa kami mendengar kawan- kawan sahabat sama menangis dan menjerit jerit dikediaman Abu Bakar . Maka berubahlah roman muka Nabi Saw, serta merta berdiri dan cepat-cepat pergi kepada para sahabat dikediaman  Abu Bakar; dan beliau mendapatkan mereka betul-betul semua menangis  dan menjerit-jerit. Kemudian beliau bertanya kepada mereka: “ Apakah yang menyebabkan kamu sekalian menangis ?”. Sahabat Ali Ra menjawab: “ Abu Bakar mengatakan: “ Saya telah membaui dari ayat ini akan bau/tanda tanda kematian Rasulullah”, apakah ayat ini menunjukkan akan wafat engkau”. Nabi Saw bersabda: “ Apa yang dikatakan oleh Abu Bakar itu benar, dan sungguh telah dekat waktuku meninggalkan kamu sekalian dan telah sampai pula waktu perpisahanku dengan kamu sekalian.”

Kejadian ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah diantara sahabat yang lebih tahu. Ketika Abu Bakar mendengar yang demikian itu, dia menjerit dengan jeritan yang keras sekali serta tersungkur karena pingsan, sedang Ali Ra, badannya gemetar dan para sahabatpun sama ribut sibuk merasa ketakutan semuanya dan semuanya menangis keras sekali, sehingga turut pula menangis gunung-gunung, batu-batu dan semua Malaikat yang berada dilangit, cacing-cacing dan semua binatang baik yang didarat maupun dilaut. Kemudian Nabi Saw menjabat tangan para sahabat satu persatu dan meninggalkan mereka sambil menangis dan telah berwasiat pula kepada mereka.

Sesudah turunnya ayat diatas Nabi Saw mengalami hidup selama delapan puluh satu hari.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.  bahwa Nabi Saw ketika sudah dekat ajalnya, beliau menyuruh Bilal agar azan/mengundang orang-orang untuk mengerjakan shalat. Maka berkumpullah para Muhajjirin dan Anshar ke masjid Rasulullah Saw, kemudian beliau mengerjakan shalat dua raka’at dengan ringan, bersama-sama dengan mereka, lalu beliau naik mimbar membaca alhamdulillah, memuji kepada Allah dan berkhutbah/berpidato dengan kalimat-kalimat yang baligh/tepat sehingga hati menjadi gentar, dan matapun menangis dan beliau bersabda:

“Hai kaum muslimin, sesungguhnya saya bagi kamu sekalian itu sebagai nabi dan penasihat serta sebagai orang yang mengajak kepada jalan Allah dengan ijin-Nya, dan adalah saya bagimu itu seperti saudara kandung yang kasih sayang dan seperti ayah yang belas kasih; barangsiapa  yang mempunyai hak yang bisa dituntut, hendaklah berdiri dan membalas kepada saya sebelum saya dituntut balas dihari Kiamat.”

Tidak seorangpun yang berdiri, sehingga beliau bersabda kedua kali dan ketiga kali. Maka berdirilah seorang laki-laki bernama”Ukasyah bin Muhshan, dihadapan nabi Saw. dia berkata: “ Demi ayahku dan ibuku ya Rasulullah, seandainya engkau tidak mengumumkan kepada kita berkali-kali, tentu saya tidak mengemukakan hal ini: Sungguh saya pernah bersama engkau didalam perang Badar, sedang unta saya mengikuti unta milik engkau, maka saya turun dari unta dan saya mendekati engkau agar saya bisa mencium paha engkau; tiba-tiba engkau telah mengangkat tongkat dan engkau pukulkan unta agar berjalan cepat dan engkau pukul juga tulang rusuk saya, maka saya tidak tahu apakah Rasulullah bersengaja, ataukah hendak memukul unta engkau sendiri?.

Rasulullah Saw bersabda: “ Hai Ukasyah, Rasulullah dijauhkan bersengaja memukul engkau.”

Selanjutnya Nabi Saw bersabda kepada Bilal: “Hai Bilal, pergilah engkau kerumah Fathimah dan ambilkan tongkat saya”.

Bilalpun keluar dari masjid Rasulullah Saw. Sambil meletakkan tangannya diatas kepala dan berkata sendiri: “Inilah Rasulullah yang telah menyediakan dirinya untuk diqishash (dibalas)”.

Setibanya Bilal dirumah Fathimah, dia mengetok pintu.

Sahut Fathimah: “Siapa itu dipintu?.”

Kata Bilal: “Saya. saya datang kemari untuk mengambil tongkat Rasulullah”.

Kata Fathimah: “Hai Bilal, untuk apa ayah memerlukan tongkat?.”

Kata Bilal: “Hai Fathimah, sesungguhnya ayahmu Rasulullah, telah menyediakan diri untuk diqishash (dibalas)”.

Kata Fathimah: “Hai Bilal, siapakah orangnya yang sampai hati akan mengqishash Rasulullah?”.

Kemudian Bilal mengambil tongkat dan terus pergi masuk ke masjid serta menyerahkan tongkat kepada Rasulullah, dan Rasulullah menyerahkan  tongkat itu kepada Ukasyah.

Melihat yang demikian itu maka Abu Bakar dan Umar berdiri seraya berkata: “ Hai Ukasyah, kami berdua berada dihadapanmu, maka qishashlah kami dan jangan kamu mengqishash Rasulullah”.

Rasulullah menegor keduanya: “ Hai Abu Bakar dan Umar duduklah engkau keduanya!. Sungguh Allah Ta’ala telah mengetahui tempatmu berdua”.

Maka Ali Ra. Berdiri seraya berkata: “Hai Ukasyah, saya didalam hidup ini selalu disamping Rasulullah Saw, maka tidak sampai hati saya melihat engkau mengqishash Rasulullah dan inilah punggungku dan perutku, qishashlah dengan tanganmu dan pukullah saya dengan tanganmu”.

Sabda Rasulullah Saw: “ Hai Ali, (duduklah), sungguh Allah telah mengetahui tempatmu dan niatmu”.

Hasan dan Husain berdiri seraya berkata keduanya: “ Hai Ukasyah tidakkah engkau tahu, bahwa kami berdua cucu Rasulullah, maka engkau mengqishash kami berarti sama saja mengqishash Rasulullah”.

Kata Rasulullah Saw.: “ Hai buah hatiku, duduklah kamu keduanya!.”

Kemudian Rasulullah Saw. bersabda kepada Ukasyah: “ Pukullah jika engkau hendak memukul”.

Kata Ukasyah: “ Wahai Rasulullah, engkau telah memukul saya sedang saya tidak berpakaian/tidak berbaju”. Maka Rasulullah membuka pakaiannya, sehingga para muslimin semua menjerit sambil menangis.

Tatkala Ukasyah melihat badan Rasulullah yang putih itu, dia menubruk/memegangnya dan menciumi punggungnya seraya berkata: “Saya tebus engkau dengan jiwaku, wahai Rasulullah, siapakah orang yang sampai hati meng-qishash engkau; sungguh saya melakukan yang demikian itu dengan harapan  agar supaya  badan saya bersentuhan dengan badan engkau yang dimuliakan, dan Tuhanku Allah menjaga saya dari neraka dengan sebab kehormatanmu”.

Nabi Saw bersabda: “Ketahuilah, barangsiapa ingin melihat ahli surga  hendaklah dia melihat orang ini.”

Maka berdirilah kaum muslimin dan menciumi diantara kedua mata Ukasyah sambil berkata: “ Keuntungan besar bagimu, engkau telah memperoleh derajat yang tinggi dan berteman dengan Rasulullah Saw didalam surga.

“Ya Allah, mudahkanlah bagi kami sekalian akan memperoleh syafa’atnya ( Nabi Saw) dengan kemuliaaan dan keagungan Engkau”. ( Dari Al Mau’izdati hasanati).

Kata Ibnu Mas’ud : “Tatkala Rasulullah Saw. Telah mendekati ajalnya, beliau mengumpulkan kami sekalian dikediaman ibu kita Siti ‘Aisyah, kemudian beliau memperhatikan kami sekalian sehingga berderailah air matanya dan bersabda: “Selamat datang bagi kamu sekalian dan mudah-mudahan kamu sekalian dibelas kasihani oleh Allah; saya berwasiat agar supaya kamu sekalian bertaqwa kepada Allah serta mentaati-Nya. Sungguh telah dekat hari perpisahan kita dan telah dekat pula saat hamba yang dikembalikan pulang kepada Allah ta’ala dan menempati surganya. Kalau sudah datang saat ajalku, hendaklah Ali yang memandikan, Fadhal bin Abas yang menuangkan air dan Usamah bin Zaid yang menolong keduanya.

Kemudian kafanilah aku dengan pakaianku sendiri bila kamu sekalian menghendaki, atau dengan kain Yaman yang putih. Kalau kamu sekalian memandikan aku, maka taruhlah aku diatas balai tempat tidurku dirumahku ini, dekat dengan lobang lahadku. Sesudah itu keluarlah kamu sekalian barang sesaat meninggalkan aku . Pertama-tama yang menshalati aku ialah Allah ‘azza wa jalla, kemudian Malaikat Jibril, kemudian Malaikat Israfil, lalu Malaikat Mikail, kemudian Malaikat juru pati(‘Izrail) beserta para pembantunya, selanjutnya semua para Malaikat. Sesudah itu masuklah kamu sekalian dengan berkelompok-kelompok dan lakukanlah shalat untukku”.

Setelah mereka mendengar ucapan perpisahan  Nabi Saw. maka para sahabat semua menjerit dan menangis seraya berkata: “Wahai Rasulullah, engkau adalah seorang utusan untuk kami sekalian, menjadi kekuatan dalam pertemuan kami dan sebagai penguasa yang mengurus perkara kami; bilamana engkau telah pergi dari kami, kepada siapakah kami kembali dalam segala persoalan?’.

Rasulullah Saw bersabda: “Telah kutinggalkan kamu sekalian pada jalan yang benar dan diatas jalan yang terang dan telah kutinggalkan pula untuk kamu sekalian dua penasihat, yang satu pandai bicara dan yang satunya diam saja. Yang pandai bicara ialah Al Qur’an dan yang diam adalah ajal. Apabila ada persoalan yang sulit bagimu, maka kembalilah kamu sekalian kepada Al Qur’an dan kepada sunnah; dan kalau hati kamu keras membatu , maka lunakkanlah dia dengan mengambil tamsil ibarat dari hal ihwal mati.”

Sesudah itu maka Rasulullah Saw. menderita sakit mulai akhir bulan Shafar selama delapan belas hari dan sudah sering ditengok oleh orang-orang/para sahabat. Sedang penyakit yang diderita mulai pertama sehingga akhir hayatnya ialah pusing/kepala.

Lanjut ke bag-2