Wujud : Artinya ALLAH Itu Ada

Yaitu tetap dan benar yang wajib bagi zat Allah Ta’ala yang tiada disebabkan dengan sesuatu sebab. Firman Allah SWT.:

Al Qur'an surat Al Ikhlash (Memurnikan Keesaan Allah) ayat (1-4)

Kisah-1: Percakapan seorang pelajar baru dengan seorang professor yang ateis

An atheist professor of philosophy speaks to his class on the problem science has with God, The Almighty.  He asks one of his new students to stand and…..

Seorang professor filsafat yang ateis menerangkan kepada pelajar2 dikelasnya tentang permasalahan Kekuasaan Tuhan dalam kaitannya dengan Ilmu Pengetahuan.  Dia menyuruh salah seorang pelajar baru untuk berdiri dan…..

Prof: So you believe in God?

Prof: Jadi anda percaya bahwa Tuhan itu Ada?

Student: Absolutely, sir.

Pelajar:  Benar, Pak.

Prof : Is God good?

Prof; Apakah Tuhan itu baik?

Student: Sure.

Pelajar: Sudah tentu

Prof: Is God all-powerful?

Prof: Apakah Tuhan itu Maha Kuasa atas segalanya?

Student : Yes.

Pelajar: Iya

Prof: My brother died of cancer even though he prayed to God to heal him.  Most of us would attempt to help others who are ill. But God didn’t. How is this God good then? Hmm?

Prof: Saudara saya meninggal karena penyakit kanker padahal dia sudah berdoa kepada Tuhan untuk membantu menyembuhkan penyakitnya. Kebanyakan dari Kita akan berusaha untuk menolong  orang yang sedang sakit. Tetapi Tuhan tidak menolong. Bagaimana bisa dikatakan Tuhan itu baik?  Hmmm?

(Student is silent.)

(Pelajar itu terdiam)

Prof: You can’t answer, can you? Let’s start again, young fella. Is God good?

Prof: Engkau tidak bisa menjawabnya, bukan?. Mari Kita  ulangi lagi, orang muda. Apakah Tuhan itu Baik?

Student: Yes.

Pelajar: Iya

Prof: Is Satan good?

Prof: Apakah setan itu baik?

Student : No.

Pelajar: Tidak

Prof: Where does Satan come from?

Prof: Dari manakah asal setan itu?

Student: From…God…

Pelajar: Dari Tuhan

Prof: That’s right. Tell me son, is there evil in this world?

Prof: Betul. Coba katakan nak, apakah Ada kejahatan di dunia ini?

Student: Yes.

Pelajar: Iya, Ada

Prof: Evil is everywhere, isn’t it? And God did make everything. Correct?

Prof: Kejahatan Ada dimana-mana, bukan?. Dan Tuhan menciptakan segalanya. Benarkah?

Student: Yes.

Pelajar: Iya

Prof: So who created evil?

Prof: Jadi siapakah yang menciptakan kejahatan itu?

(Student does not answer.)

(Pelajar itu tidak memberikan jawaban)

 

Prof: Is there sickness? Immorality? Hatred? Ugliness? All these terrible things exist in the world, don’t they?

Prof: Apakah Ada yang dinamakan dengan penyakit? Tidak bermoral? Rasa benci? Keburukan?. Semua  hal-hal yang tidak baik  yang saya sebutkan tadi Ada didunia ini, bukan?

Student: Yes, sir.

Pelajar: Iya

Prof: So, who created them?

Prof: Siapa yang menciptakan semua itu:

(Student has no answer.)

(Pelajar tidak memberikan jawaban)

Prof: Science says you have 5 senses you use to identify and observe the world around you. Tell me, son…Have you ever seen God?

Prof: Ilmu penegetahuan mengatakan bahwa engkau memiliki 5 panca indera untuk dapat mengenali Dan mengamati dunia disekelilingmu. Coba ceritakan kepada saya, nak. Apakah engkau pernah melihat Tuhan?

 Student: No, sir.

Pelajar: Tidak, Pak.

Prof: Tell us if you have ever heard your God?

Prof: Coba ceritakan, apakah engkau pernah mendengar suara Tuhan?

Student: No, sir.

Pelajar: Tidak, Pak

Prof: Have you ever felt your God, tasted your God, smelt your God? Have you ever had any sensory perception of God for that matter?

Prof: Apakah engkau pernah menyentuh Tuhan, merasakan, mencium bau Tuhanmu?. Apakah engkau pernah mendeteksi keberadaan Tuhan melalui panca inderamu?

Student: No, sir. I’m afraid I haven’t.

Pelajar: Tidak, Pak. Saya takut tidak akan pernah merasakannya.

Prof: Yet you still believe in Him?

Prof:  Saya tidak mengerti, mengapa engkau masih mempercayai keberadaan-Nya

Student: Yes.

Pelajar: Iya

Prof: According to empirical, testable, demonstrable protocol, science says your GOD doesn’t exist. What do you say to that, son?

Prof: Sesuai dengan kenyataan  empiris, data percobaan, Dan demonstrasi pembuktian, Ilmu Pengetahuan mengatakan bahwa  Tuhanmu sebenarnya tidak Ada. Apa pendapatmu tentang hal itu, nak?.

Student: Nothing. I only have my faith.

Pelajar: Tidak Ada. Saya hanya memiliki keyakinan

Prof: Yes. Faith. And that is the problem science has.

Prof: Iya, keyakinan. Itulah yang menjadi persoalan dari sisi Ilmu Pengetahuan.

Student: Professor, is there such a thing as heat?

Pelajar: Professor,  Apakah engkau mengetahui adanya sesuatu yang dikatakan dengan panas.

Student: And is there such a thing as cold?

Pelajar: Dan sesuatu yang dikatakan dengan dingin?

Prof: Yes.

Prof: Iya

Student: No sir. There isn’t. (The lecture theatre becomes very quiet with this turn of events.)

Pelajar: Tidak, Pak.  Yang dikatakan dingin itu sebenarnya tidak ada. ( Semua pelajar yang berada dalam ruangan itu menjadi sunyi senyap dengan adanya pertanyaan balik  ini)

Student : Sir, you can have lots of heat, even more heat, superheat, mega heat, white heat, a little heat or no heat. But we don’t have anything called cold. We can hit 458 degrees below zero which is no heat, but we can’t go any further after that. There is no such thing as cold. Cold is only a word we use to describe the absence of heat. We cannot measure cold. Heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it .

(There is pin-drop silence in the lecture theatre.)

Pelajar: Pak, Engkau bisa merasakan bermacam-macam panas itu seperti: lebih panas, sangat panas, dan sangat panas sekali, sedikit panas atau tidak ada panas. Tapi kita tidak bisa mengukur besarnya dingin.  Kita  hanya bisa mendeteksi panas sebesar 458 derajat dibawah titik nol yang artinya tidak ada terasa panas lagi. Kita belum bisa mecapai panas dibawah titik tersebut. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang dikatakan dengan dingin. Dingin hanyalah sebuah nama yang kita gunakan untuk  menjelaskan tentang ketiadaan panas. Kita tidak dapat mengukur besarnya dingin. Panas adalah energy. Dingin bukanlah lawan kata dari panas, pak. Tetapi hanya berupa ketiadaan panas. (Terdengar suara pulpen terjatuh di ruangan yang sunyi senyap)

Student: What about darkness, Professor? Is there such a thing as darkness?

Pelajar: Bagaimana dengan keadaan gelap menurut professor?. Adakah sesuatu yang dikatakan dengan kegelapan?

Prof: Yes. What is night if there isn’t darkness?

Prof: Iya. Bagaimana mungkin ada malam kalau tidak ada kegelapan

Student : You’re wrong again, sir. Darkness is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light…. But if you have no light constantly, you have nothing and it’s called darkness, isn’t it? In reality, darkness isn’t. If it were you would be able to make darkness darker, wouldn’t you?

Pelajar: Bapak salah lagi.  Kegelapan adalah menyatakan ketiadaan sesuatu cahaya. Engkau dapat mengatakan kurang terang, cukup terang, sangat terang, sinar terang…Tetapi  bila engkau tidak  mendapatkan  cahaya sama sekali engkau tidak akan dapat melihat apa-apa dan itulah yang dinamakan kegelapan, bukan?. Secara nyata, sebenarnya kegelapan itu tidak ada. Sebab jikalau kegelapan itu ada maka anda akan  bisa membuat tingkatan kegelapan menjadi lebih gelap lagi, bukan?.

Prof: So what is the point you are making, young man?

Prof: Sebenarnya, apa tujuan pertanyaanmu semua itu. Orang muda?

Student: Sir, my point is your philosophical premise is flawed.

Pelajar; Pak, Maksud saya, cara berfikir bapak ada yang tidak tepat.

Prof: Flawed? Can you explain how?

Prof: Tidak tepat?. Dapatkah engkau menjelaskannya?

Student: Sir, you are working on the premise of duality. You argue there is life and then there is death, a good God and a bad God. You are viewing the concept of God as something finite, something we can measure. Sir, science can’t even explain a thought. It uses electricity and magnetism, but has never seen, much less fully understood either one.To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing. Death is not the opposite of life: just the absence of it. Now tell me, Professor.Do you teach your students that they evolved from a monkey?

Pelajar: Pak, Engkau memahami keberadaan Tuhan berdasarkan prinsip-prinsip dasar yang ganda. Engkau mengatakan bahwa  ada hidup dan kemudian ada mati, Tuhan yang baik dan Tuhan yang Jahat. Engkau menggambarkan konsep ke Tuhanan itu sebagai sesuatu yang terbatas, sesuatu yang dapat kita ukur. Pak, Ilmu Pengetahuan itu tidak akan dapat menjelaskan apa itu  yang namanya gagasan pikiran. Kita  dapat menggunakan listrik, daya magnet, tetapi kita tidak pernah melihat apa sebenarnya didalam listrik itu. Menggambarkan mati sebagai sesuatu yang berlawanan dengan kata hidup adalah sesuatu yang salah. Mati bukanlah lawan kata dari  hidup; tetapi hanyalah menggambarkan ketiadaan kehidupan. Sekarang, cobalah anda pikirkan. Apakah engkau menganggap murid2 yang engkau ajari itu sebenarnya berasal dari keturunan monyet?

Prof: If you are referring to the natural evolutionary process, yes, of course, I do.

Prof: Jika engkau berpatokan pada proses evolusi, Iya, sudah tentu?

Student: Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?

(The Professor shakes his head with a smile, beginning to realize where the argument is going.)

Student: Apakah engkau pernah melihat langsung proses terjadinya evolusi itu, Pak?. (professor menggaruk kepalanya sambil tersenyum, mulai memahami kemana arah pembicaraan)

Student: Since no one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavor. Are you not teaching your opinion, sir? Are you not a scientist but a preacher? (The class is in uproar.)

Pelajar: Karen tidak ada seseorangpun yang pernah melihat proses evolusi itu berlangsung dan sampai sekarang tidak dapat dibuktikan bahwa evolusi itu masih berlangsung . Apakah selama ini sebenarnya engkau bukan mengajarkan buah pikiranmu?. Apakah engkau bukan seorang ilmuwan tetapi hanyalah seorang pembual?. (Kelas menjadi gaduh)

Student: Is there anyone in the class who has ever seen the Professor’s brain?

Pelajar: Apakah ada sesorang didalam kelas ini yang pernah melihat otak professor

(The class breaks out into laughter.)

Student : Is there anyone here who has ever heard the Professor’s brain, felt it, touched or smelt it? No one appears to have done so. So, according to the established rules of empirical, stable, demonstrable protocol, science says that you have no brain,sir. With all due respect, sir, how do we then trust your lectures, sir?

(The room is silent. The professor stares at the student, his face unfathomable.)

 ( Terdengar suara orang yang tertawa)

Pelajar: Apakah   ada yang pernah mendengar suara otak professor, merasakannya, menyentuhnya atau mencium bau otak professor. Tak akan ada orang yang pernah melakukannya. Jadi, sesuai dengan hukum2 empiris, kestabilan dan pembuktian jikalau begitu  Ilmu pengetahuan mengatakan sebenarnya engkau tidak memiliki otak, pak. Dengan segala hormat, pak, bagaimana mungkin kami bisa mempercayai apa yang engkau ajarkan?.

(Ruangan kembali senyap, professor menatap pelajar, wajahnya kelihatan bingung)

Prof: I guess you’ll have to take them on faith, son.

Prof: Saya rasa itu masalah kepercayaan saja, nak.

Student: That is it sir… The link between man & god is FAITH . That is all that keeps things moving & alive.

Pelajar: Itulah yang saya maksud, Pak. Hubungan antara manusia dengan Tuhan adalah soal keyakinan. Dialah yang menyebabkan manusia tetap bisa beraktifitas dan hidup.

NB: I believe you have enjoyed the conversation…and if so…you’ll probably want your friends/colleagues to enjoy the same…won’t you?…. this is a true story, and the student was none other than………..  APJ Abdul Kalam , the former president of India (The 3rd Muslim president of INDIA)

NB: Mudah-mudahan anda menikmati pecakapan tadi. Bila iya…sebarkan lah ini kepada teman/kerabat untuk dapat menikmatinya juga. Ini adalah kisah nyata dan pelajar tersebut adalah Abdul kalam, bekas presiden India ( Presiden ketiga  India yang seorang Muslim).

Kisah-2: Dialog between Imam Abu Hanifa vs Atheist

The story below shows how weak an atheist feel’s after trying to battle Imam Abu Hanifa intellectually….

Imam Abu Hafina was asked by the khalifa to meet with them and an atheist so Imam Abu Hanifa could debate with him. They set a time for them to meet up. So the day and time came and left and they kept waiting for Imam Abu Hanifa until finally he came. Everyone questioned him about his being late and what happened. So he started explaining how there was river that he had to cross…. and he was waiting for a boat to come and bring him on the other side of the river.

While he was waiting, the branches and leaves of the tree fell and slowly formed themselves into a boat. And he jumped in that boat crossed the river.

Obviously ppl laughed at this story and the atheist asked him “Are you mad enough to believe that a boat was made all by itself?”

Imam Abu Hanifa replied “Who is more mad? the one who believed that a boat was created by itself, or you who believes that the entire world is created by itself?”

Terjemahan:

Dialog antara Imam Abu Hanifah vs Ateis

Cerita dibawah ini menggambarkan bagaimana malunya seorang ateis  setelah mencoba menantang  intelekualitas Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah diundang khalifah untuk bertemu dengan mereka dan seorang ateis untuk melakukan debat. Mereka mengatur jadwal untuk melakukan pertemuan. Pada hari  yang telah ditentukan mereka lama menunggu Imam Abu Hanifah karena beliau terlambat datang. Semua orang bertanya-tanya mengapa beliau terlambat dan apa yang telah terjadi.

Maka beliaupun menceritakan bahwa ia harus melewati sungai..dan pada sat itu  tidak ada sampan yang bisa ditumpangi supaya beliau dapat menyeberang.

Sewaktu beliau sedang menunggu sampan , tiba-tiba cabang-cabang pohon dan daun-daunan berjatuhan membentuk sebuah sampan. Kemudian ia melompat kedalamnya sehingga ia dapat menyeberangi sungai tersebut.

Orang-orang tertawa mendengar cerita tersebut dan si ateis itu bertanya kepadanya:”Apakah engkau cukup gila sehingga percaya bahwa  sampan itu bisa terbentuk sendiri”.

Imam Abu Hanifah membalas:”Siapa sebenarnya yang gila? Orang yang mempercayai bahwa sampan terbentuk sendiri atau orang yang percaya bahwa dunia ini terbentuk dengan sendirinya. (Note: seorang ateis itu mempercayai bahwa dunia ini tidak ada yang menciptakan tapi terbentuk dengan sendirinya).

Lanjut ke Bag-2