Berikut persepsi-persepsi yang dianggap benar oleh sebagian masyarakat kita namun sebenarnya tidaklah Qur’ani:

1. Allah hanya memberikan hidayah kepada orang tertentu yang dikehendakiNya saja

Pendapat ini keliru . Hal ini karena salah dalam menginterpretasikan ayat berikut:

Demikianlah Allah menyesatkan siapa saja menurut kehendak-nya dan memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu melainkan Dia.Al-Mudatsir (73):31

Seharusnya pertimbangkan ayat-ayat berikut dibawah ini:

Dan Allah tidak memberi hidayah (petunjuk) kepada orang pendusta yang sangat ingkar. Az-Zumar (39):3

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan akan diberi hidayah oleh Tuhan mereka atas keimanan mereka Yunus (10):9

Dan barang siapa beriman kepada Allah, hatinya diberi hidayah oleh-Nya. At-Taghaabun (64):11

Allah memberi hidayah kepada orang-orang yang kembali (bertobat) kepada-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan selalu ingat kepada Allah. Ar-Ra’d (13):27-28

Dari hal diatas mestilah disimpulkan bahwa Allah memberikan hidayah kepada seseorang karena sebelumya orang tersebut sudah melakukan kegiatan-kegiatan yang disenangi-Nya. Juga harus direnungkan seandainya Allah memang benar memberi hidayah secara cuma-cuma ( tanpa memandang orang itu taat atau tidak pada-Nya), bukankah ini berarti tidak sesuai dengan ke Maha Adilan-Nya ?.

Adanya pemahaman yang keliru mengenai masalah pemberian hidayah Allah ini mengakibatkan orang malas berjuang untuk memahami kebenaran dan melawan hawa nafsunya. Ia akan selalu berdalih bahwa kesesatannya ini karena Allah belum memberinya hidayah. Begitu juga ia tidak mau menunaikan ibadah haji dengan berdalih bahwa ia belum mendapat “panggilan”.

Renungkanlah ayat-ayat berikut ini:

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Al-Israa’ (17):19

Dan taatilah perintah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi Rahmat. Ali-Imran (3):132

2. Sabar itu ada batasnya

Ini pemahaman keliru yang sangat fatal. Dengan pemahaman seperti ini akan menyebabksan hati menjadi rapuh , tidak tegar menerima ujian atau musibah dari Allah, yang akhirnya mengakibatkan batin menjadi merana. Banyak orang yang lepas kontrol dengan dalih “sabar itu ada batasnya”.

Sesungguhnya sabar itu perintah Allah, dengan demikian tidak akan ada batasnya. Ini sama saja halnya dengan shalat. Hanya bedanya, bila shalat dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu ( ada azannya) maka sabar itu harus dilakukan pada saat awal tertimpa musibah. Sedangkan musibah itu selama kita hidup tidak akan pernah berhenti.

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan bagi manusia, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. Al-Kahfi (18):7

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan:”kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi ?. Al-Ankabuut (29):2

Bahkan dalam hadits ditegaskan bahwa musibah itu merupakan indikator kecintaan Allah pada manusia (“ Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia tenggelamkan hamba tersebut kedalam cobaan. Barangsiapa yang tidak pernah mengalami musibah, maka ia jauh dari kasih sayang Allah”). Bukankah dengan musibah itu berarti Allah memberikan peluang kepada manusia untuk memperoleh pahala yang sangat dibutuhkan dalam “kehidupan abadi” nanti ?.

Sabar itu tidak hanya dilakukan pada waktu tertimpa kesusahan saja, tetapi harus juga dilakukan pada waktu diberikan kesenangan. Karena ujian Allah itu tidak hanya terdapat dalam kesusahan saja, tetapi terdapat juga dalam kesenangan ( Al-Anbiya:35, Al-A’raaf:168). Kebanyakan orang justru lalai menjalankan sabar bila diberi kesenangan.

Renungkanlah firman Allah berikut:

… dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah. Luqman(31):17

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya. Ar-Ra’d(13):22

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Al-Baqarah(2):153.

3. Anak adalah karunia Allah

Persepsi seperti ini kurang tepat, karena Al-Qur’an mengatakan bahwa anak itu adalah cobaan Allah.

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anak kamu itu hanyalah sebagai cobaan….. Al-Anfaal (8):28

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. At-Taghabun (64):14

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. At-Taubah(9):55

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya disisi Rabbmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan. Al-Kahfi(18):46

 Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa anak itu adalah titipan atau amanah Allah adalah sesuai dengan maksud Al-Qur’an yang mengatakan bahwa salah satu tanggung jawab orang tua adalah mengusahakan agar keturunannya menjadi lebih baik dari dirinya. Tanggung jawab orang tualah untuk mendidik anak hingga menjadi orang yang berilmu dan bertaqwa. Kalau kewajiban ini dilaksanakan dengan baik, maka ‘efek samping’ nya akan dinikmatinya, yaitu sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw berikut:

“Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, putuslah semua amal perbuatan ( yang dapat menyampaikan pahala kepadanya kecuali tiga perkara: anak yang saleh yang mendoakannya, sedekah jariah (wakaf), dan ilmu yang dapat diambil manfaat daripadanya . HR muslim dari Abu Hurairah.

Seseorang yang mempunyai persepsi bahwa anak itu adalah karunia Allah yang diberikan kepadanya, maka tanpa disadari akan tertanam dalam hatinya bahwa anak itu adalah miliknya. Sehingga bila anak itu melakukan pembangkangan padanya, maka ia akan dilanda kekecewaan ataupun kemarahan. Banyak orang yang mengalami Stress karena perilaku anaknya. Apalagi bila anaknya itu meninggal, ia akan sulit untuk ikhlas. Ia tidak mustahil akan terjerumus kedalam kesedihan yang dalam. Namun bila anak itu dianggap sebagai titipan Allah, yang hendak menguji ketaatannya mematuhi “aturan” yang dibuat-Nya, Insya Allah kejadian yang diilustrasikan diatas tidak akan terjadi. Ingatlah bahwa di akhirat nanti, kita akan dihisab sendiri-sendiri. Seorang ayah atau ibu akan dipisahkan dari anaknya.

Renungkanlah ayat-ayat berikut:

Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. Maryam (19):95

Dan tidaklah seseorang akan menanggung beban dosa orang lain. Al-An’aam(6):64

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tidaklah akan dipikulkan kepadanya sedikit pun meskipun ( yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Fathir (35):18

…seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. An-Najm(53):38-39

4. Berdoalah dahulu sebelum bepergian, supaya Allah menyelamatkan kita sampai di tujuan

Pendapat ini kurang tepat. Harus disadari bahwa permohonan kepada Allah itu sebaiknya mengenai hal-hal yang kita tahu persis bahwa pada hakikatnya yang kita minta itu baik. Dalam hal bepergian, doa yang diajarkan Rasulullah saw adalah bukan minta keselamatan, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah. Soal Dia mau memberi selamat atau tidak, kita pasrahkan saja pada kehendak-Nya dengan penuh keyakinan bahwa Dia tidak pernah menganiaya manusia (Al-Anfaal(8):51.

Bila persepsi yang kurang tepat ini tidak kita tinggalkan, maka dapat mematikan potensi berserah diri. Disamping itu, bisa seseorang akan jera berdoa bila ternyata Allah memberikan hasil yang tidak sesuai dengan permohonannya, apalagi ia merasa telah melaksanakan perintah-perintah-Nya (seperti shalat atau puasa). Hal ini jelas berbahaya.

Sebagai bahan renungan:

 Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Al-Anbiya’(21):35

…..Dan Kami coba mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk. Al-A’raaf (7):168

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu: Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Al-Baqarah(2):216

Kalau kita yakin penuh bahwa doa itu akan diterima,,hal itu juga salah.

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas……. Berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Al-A’raaf (7):55-56

Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Maryam(190:3

…. Sedang mereka berdoa kepada Tuhannya denganrasa takut dan harap…As-Sajdah(32):16

Bukankah ayat-ayat diatas mengisyaratkan bahwa kita harus memasrahkan diri pada kehendak-Nya.

 Sumber: BAHAN RENUNGAN KALBU. Ir. Permadi Alibasyah