Makhluk ghaib telah terlalu lama dan terlalu sering disikapi secara berlebihan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Ada leluhur-leluhur yang minta disajeni, ada barang sakti yang harus dirawat bak anak sendiri, ada kyai-kyai yang mampu mengunci para hantu di dalam botol, hingga isu kolor ijo yang mampu menebar teror penduduk berkampung-kampung.

Apa itu makhluk ghaib?

Secara bahasa, makhluk ghaib adalah segala makhluk yang tidak bisa kita lihat dengan panca indera kita, dengan mata kita. Secara syariat, yang dimaksud ghaib itu adalah sesuatu yang ada di dalam Al Quran, maupun Hadits, tetapi kita sebagai manusia tidak dapat melihatnya. Di antara yang ghaib adalah surga, neraka, azab kubur, hari kiamat termasuk pula jin ataupun setan. Dan untuk soal ini, kita harus percaya, kita harus mengimani, walaupun kita tidak pernah melihat keberadaan makhluk itu.

Adapun kuntilanak, genderuwo, atau pocong, itu semua adalah penampakan-penampakan dari setan, kalau memang benar itu ada. Dan itu pun bukan berarti Allah menciptakan kuntilanak, tuyul, dan sebagainya. Semua itu hanyalah jelmaan, penampakan yang dilakukan setan kepada manusia.

Apakah perbedaan antara Iblis, jin dan setan?

Dalam surat Al Kahfi ayat 50 Allah berfirman:

Al Quran Surat Al Kahfi Ayat 50Lalu siapakah setan itu?.  Dalam surat An An’am Ayat 112 Allah berfirman:  Al Quran Surat Al An'am Ayat 112

Dalam Surat Al A’raaf Ayat 179 Allah berfirman:

Al Quran Surat Al A'raaf ayat 179

Dari beberapa ayat Al Quran diatas maka dapat disimpulkan bahwa setan itu berasal dari manusia dan jin karena sifatnya menipu manusia untuk melakukan pembangkangan terhadap perintah Allah Swt. Iblis sendiri adalah termasuk dari golongan jin sesuai surat Al Kahfi ayat 50 diatas.

Apakah kehadiran makhluk ghaib bisa dideteksi?

Jin, setan, tidak bisa kita rasakan kehadirannya, karena memang tidak dijelaskan oleh Allah, apakah mereka mempunyai bau yang khas ataupun tanda-tanda seperti adanya hawa dingin atau hawa panas, misalnyakehadiran mereka hanya bisa dilihat melalui perubahan dalam sikap atau perilaku seseorang yang diganggu, yang tidak sewajarnya sebagai manusia atau punya sifat-sifat buruk yang identik dengan sifat-sifat setan, seperti suka marah, atau terlihat melakukan gerakan-gerakan diluar batas manusia.

Bagaimana membedakan antara nafsu yang jahat dengan godaan setan?

Perlu diketahui bahwa nafsu itu bisa bergeser membawa kita kearah yang baik maupun kearah yang jahat. Kalaulah nafsu itu bisa bergeser kearah yang jahat sementara godaan setan juga mendorong manusia untuk berbuat jahat, lantas bagaimana kita bisa membedakan antara nafsu yang jahat dengan godaan setan?.

Untuk membedakannya marilah kita ilustrasikan perumpamaannya dengan cerita ibu-ibu kita dahulu waktu memasak nasi pakai kayu bakar dikampung. Untuk menyalakan api yang redup biasanya dipakai bambo. Ujung bambu inilah yang dihembus dan anginnya diarahkan kearah api yang mulai redup sehingga api tersebut kembali marak. Kira-kira demikianlah perumpamaannya, dimana api yang masih redup itu ibarat nafsu yang jahat sedangkan api bisa marak karena ada yang menghembuskannya. Oleh karena itu misalnya kita sedang marah dan tanpa terasa marahnya itu tidak bisa reda-reda malah makin bertambah-tambah, cepatlah sadar dan mintalah perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan Audzubillahi Minassyaithanirrajim  (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk), mudah-mudahan marah kita akan cepat reda.

Bagaimana dengan orang yang mengaku melihat penampakan- penampakan?

Sebagai seorang mukmin, ketika berbicara soal keghaiban,terutama yang berkaitan dengan kehidupan jin ini, kita tidak bisa memberi pernyataan kecuali kalau memang hal itu dijelaskan dalam Al Quran dan Hadist. Dalam surat Al-A’Raf ayat 27 dijelaskan bahwa kita tidak bisa melihat jin, sementara mereka bisa melihat kita. Itulah kondisi normalnya.

Al Quran Surat Al A'raaf Atay 27

Namun, jin diberi keistimewaan oleh Allah untuk bisa menampakkan diri menyerupai apapun, kecuali menyerupai diri Rasulullah. Sekali lagi, ini bukan berarti seseorang itu mampu melihat eksistensi jin, tetapi jin itulah yang akan menampakkan diri. Dan itu beberapa kali terjadi pada jaman Rasulullah. Tetapi kalau mereka tengah berada dalam wujud aslinya, kita sebagai manusia tidak bisa melihat mereka.

Dalam hadist Riwayat Imam Muslim dijelaskan, sewaktu Rasulullah shalat, ifrit—dari golongan jin juga—menampakkan diri, menganggu shalat Rasulullah, kemudian ditangkap oleh Rasulullah. Begitu juga, Abu Hurairah ketika sedang menjaga harta zakat fitrah melihat sosok jin yang tengah menampakkan diri dan mencuri harta zakat itu. Jin ini pun bisa ditangkap oleh Abu Hurairah. Persoalannya, yang kita lihat di TV atau media elektronik, penggambaran soal penampakan jin ini tidak sesuai dengan syariat Islam. Misalnya ada adegan, ketika ada jin yang menampakkan diri kepada manusia, walaupun mungkin itu rekayasa saja, atau mungkin juga beneran, lalu akan dilawan, seakan-akan jin itu tidak tersentuh. Ketika jin itu dilempar sesuatu, seperti melempar pada ruang hampa udara. Padahal sebagaimana diriwayatkan dalam salah satu hadist ada seorang pemuda yang bertemu ular,yang sesungguhnya adalah penampakkan sesosok jin, kemudian ular itu dibunuh maka jin itu pun mati.

Dari sini kita mengambil kesimpulan, ketika jin menampakkan diri, misalnya sebagai manusia, maka berlakulah hukum manusia. Kalau kita tembak ia akan bisa mati, kita lempar akan kena, bukan tembus, seperti yang digambarkan di media selama ini.

Menurut Imam Mutawali Sya’rowi, jin yang tengah menampakkan diri, berada dalam kondisi lemah, ibarat ikan yang keluar dari air. Saat jin menampakkan diri, ia tengah keluar dari komunitas aslinya yang tidak bisa dilihat, maka posisinya lemah sekali. Karena itu mereka juga tidak akan menampakkan dirinya terus menerus atau dalam waktu yang lama, dan bila saat itu ada yang membunuh, dia akan mati.

Alasan jin menampakkan diri?

Dari kasus-kasus yang kita hadapi di lapangan, terhadap pasien yang berkonsultasi sebelum kita terapi ruqyah di majalah Ghoib, kita bisa menyimpulkan bahwa jin ketika menampakkan diri memang mempunyai misi utama yaitu untuk menyesatkan kita. Misal sering kita dengar, ketika ada orang yang meninggal secara tidak wajar, hampir selalu diidentikkan akan ada penampakan, entah dikatakan rohnya pulang, dan sebagainya.

Padahal itu adalah penampakan yang dilakukan oleh setan. Bila kasus semacam itu terjadi, pihak keluarga si mayit mungkin melakukan ritual yang menyimpang, datang ke kuburan, ngasih sesajen, memintanya supaya tidak mengganggu keluarganya. Inilah misi jin atau setan yaitu berusaha agar manusia mengambil sikap yang salah dalam menghadapi fenomena penampakan.

Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang mengaku punya kemampuan bisa melihat jin?

Ada beberapa kemungkinan.

Pertama, orang yang mengaku itu, berbohong, sekedar mencari sensasi saja, padahal sesungguhnya dia tidak melihat.

Kedua, orang tersebut tengah berada dalam kondisi lemah, dalam artian ketaatan dan imannya sedang berkurang. Jin ingin mempermainkan dia dengan penampakan itu, agar orang yang tengah lemah iman ini salah dalam bersikap.

Ketiga, yang dilihat itu sesungguhnya sekedar halusinasi saja. Orang yang jiwanya tidak stabil, misalnya, mudah melihat sesuatu tidak seperti hakekatnya. Melihat daun bergoyang saja, dikira orang melambai-lambai.

Keempat, orang tersebut memang mempunyai ilmu sihir, yang berarti dia memang berkolaborasi dengan setan, dengan ritual-ritual yang menyimpang dari syariat Islam,hingga bisa berkomunikasi atau melihat keberadaan setan. Banyak dari orang yang mengaku mampu melihat jin membawa simbol-simbol Islam,seperti mengenakan sorban, membaca ayat-ayat, dan lain-lain.

Di situlah kita sangat menyesalkan,masyarakat masih sering tertipu dengan penampilan  seseorang, ataupun atribut yang dipakai oleh seseorang, sehingga tidak melihat substansi apa yang dilakukan, sesuai syariah atau tidak. Untuk bisa menilai apakah yang mereka lakukan itu sesuai syariah atau tidak, lihat saja apakah ada tuntunan dari Al Quran dan hadits.

Rasulullah dalam hadits riwayat Imam Bukhari, dengan sederhana sekali memberitahukan kepada kita tips untuk mengusir setan dari rumah, yaitu dengan membaca surat Al Baqarah dari awal sampai akhir. Jadi, tidak ada istilah dikejar, kemudian ditangkap, dan dimasukkan ke botol. Jadi,itu semua adalah cara-cara perdukunan, meskipun yang melakukan itu berpenampilan ustadz.

Lanjut ke Bag-2